LUMAJANG - Renovasi Bendungan Boreng di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, senilai Rp13 miliar telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 6 Maret 2025 lalu. Namun, hingga lebih dari dua pekan setelah peresmian, bendungan tersebut belum mampu mengaliri air secara optimal ke area persawahan.
Dari total 306 hektare lahan persawahan yang seharusnya mendapat pasokan air dari Bendungan Boreng, baru sekitar 30 hektare atau kurang dari 10 persen yang telah terairi.
Baca Juga: Khofifah Minta Alim Markus Hindari PHK, Tegaskan Komitmen Jaga Kesejahteraan Pekerja
Padahal, dalam sambutannya saat peresmian, Khofifah menyampaikan bahwa renovasi Bendungan Boreng atau DAM Boreng ini bertujuan untuk memulihkan aliran air ke lahan pertanian di tiga desa dan kelurahan di Kecamatan Lumajang yang terdampak.
Baca Juga: Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara, Apa Potensi dan Tantangannya?
"Hari ini saya meresmikan DAM Boreng setelah sebelumnya jebol diterjang banjir lahar dingin Gunung Semeru. Mudah-mudahan ini memberikan manfaat bagi para petani," ujar Khofifah.
Sebagai informasi, DAM Boreng sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat banjir lahar dingin Gunung Semeru pada tahun 2018. Bendungan ini memiliki lebar 51 meter dan panjang 43 meter, dengan fungsi utama untuk mengairi area persawahan seluas 306 hektare.
Baca Juga: Jawa Timur Terdepan dalam Tata Kelola Pemerintahan Hngga Penurunan Kemiskinan
Dengan selesainya renovasi ini, para petani di Lumajang berharap aliran air dari bendungan dapat segera normal dan mendukung pemulihan sektor pertanian, sekaligus meningkatkan produktivitas hasil panen mereka. Namun, lambatnya distribusi air dari bendungan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani, mengingat kebutuhan air untuk musim tanam sangat mendesak. (red)
Editor : Fudai