Desa Petak Pelopor Pengelolaan Sampah Organik di Bali, Kerjasama Yayasan Harapan Lingkungan Hidup

Proses Pembuatan Pupuk Organik di Desa Petak Gianyar
Proses Pembuatan Pupuk Organik di Desa Petak Gianyar

GIANYAR | ARTIK.ID - Desa Petak di Gianyar mencatat sejarah baru sebagai desa pertama di Bali yang mengimplementasikan pengelolaan sampah organik menjadi media tanam. Program inovatif ini adalah hasil kerjasama antara Desa Petak, dengan Yayasan Harapan Lingkungan Hidup, PT Songsong, dan Bank Sinarmas.

Pada Minggu, 26 Mei 2024, Kepala Desa Petak, Anak Agung Gde Mayun Purnama, berbagi cerita tentang perjalanan desa nya dalam mengatasi masalah sampah. “Sejak awal menjabat, saya bingung dengan masalah sampah yang tampaknya tidak pernah selesai. Syukurlah, pada tahun 2022, saya bertemu dengan tim dari Yayasan Harapan Lingkungan Hidup dan PT Song-song. Kami banyak berdiskusi tentang pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan agar bersih dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama para petani,” ujar Gde Mayun Purnama.

Baca Juga: HUT STT Kundalini Sakti ke-40 Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Selama setahun, Desa Petak mendapat bimbingan intensif dari Yayasan Harapan Lingkungan Hidup dan PT Song-song, dengan dukungan Bank Sinarmas. Meskipun tidak memiliki TPS 3R, desa ini menemukan cara lain untuk mengelola sampah organik. “Sampah organik yang dipilah oleh masyarakat bisa digunakan sebagai media tanam di perkebunan. Sedangkan sampah plastik memiliki nilai ekonomi dan bisa dijual ke bank sampah,” tambahnya.

Desa Petak kini mengembangkan metode pertanian organik di tujuh subak, termasuk Subak Bonyuh Sari, Subak Bonyuh Subak Gunung Jibar, kemdian Subak Benawah. Mereka telah berhasil menghasilkan panen yang signifikan dengan menggunakan sampah organik sebagai pupuk. “Dengan lahan 10 are, kita bisa menghasilkan 1-2 ton padi. Kami juga sudah membuktikan hasil panen cabe di lahan demplot mencapai 2 ton,” ungkap Gde Mayun Purnama.

Baca Juga: Peran Aktif Ibu-Ibu PKK, Dalam Program "Gianyar Memilah" di Desa Bakbakan

Kunci keberhasilan ini terletak pada penggunaan biokomposer, yang merupakan kombinasi sampah organik dan kotoran hewan yang difermentasi. “Kami memproduksi biokomposer melalui kelompok Jayanti Sari, yang menjadi kunci kesuksesan mikroba pertanian di Desa Petak,” jelasnya.

Program ini tidak hanya memanfaatkan sampah organik, tetapi juga mendukung konsep Tri Hita Karana, yang mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. “Dengan teknologi pertanian yang ada, kita dapat memperbaiki lingkungan dengan cepat, bahkan dalam waktu satu minggu,” tegas Gde Mayun Purnama.

Baca Juga: Deklarasi Masyarakat Desa Temesi Mendukung Peraturan Bupati Gianyar No. 76 Tahun 2023

Warga Desa Petak kini diimbau untuk memilah sampah kemudian membawa sampah organik mereka ke desa petak untuk diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat. “Jika ada sampah organik yang tidak tertangani di Gianyar, bawalah ke desa kami. Kami siap menerima dan akan mengolahnya menjadi pupuk organik,” ajak Gde Mayun Purnama.

Desa Petak telah membuktikan bahwa dengan inisiatif dan kerjasama yang tepat, masalah sampah dapat diubah menjadi solusi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat. Program ini diharapkan menjadi model bagi desa-desa lain di Bali dan sekitarnya.(*)

Editor : LANI