Film "DO YOU SEE WHAT I SEE" Tawarkan Pengalaman Baru Berbagai Teknik Pengambilan Gambar

JAKARTA | ARTIK.ID - Film "DO YOU SEE WHAT I SEE" karya Awi Suryadi menandai evolusi sang sutradara dalam bereksperimen dengan berbagai teknik pengambilan gambar.

 Berbeda dengan film sebelumnya, "DO YOU SEE WHAT I SEE" menghadirkan visual yang unik dan memanjakan mata dengan memanfaatkan berbagai sudut pandang dan alat bantu.

Baca Juga: Dianggap Menampilkan Adegan Pacaran Anak SD, Film Dilan 1983 Wo Ai Ni Tuai Kritik

Lokasi Terbatas, Kreativitas Tak Terbatas

Meskipun sebagian besar film ini mengambil gambar di satu lokasi, Awi Suryadi menunjukkan kreativitasnya dalam memilih angle dan teknik pengambilan gambar. Berbeda dengan film sebelumnya, "DO YOU SEE WHAT I SEE" menggunakan teknik grading yang berbeda dan memanfaatkan berbagai alat bantu seperti steady cam, body rig, dan helm rig.

Sudut Pandang Karakter yang Imersif

Baca Juga: Aghniny Haque Kembali Hadir di Layar Lebar dengan Film Kontroversial "Tuhan, Izinkan Aku Berdosa"

Penggunaan berbagai sudut pandang dan alat bantu ini bertujuan untuk memberikan pengalaman imersif bagi para penonton. Penonton diajak seolah-olah berada di dalam film dan merasakan langsung apa yang dilihat oleh para karakter.

Tantangan Fisik dan Mental bagi Para Pemeran

Teknik pengambilan gambar yang unik ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemain. Shenina Cinnamon, salah satu pemeran, mengungkapkan bahwa mereka harus menggunakan body rig dan helm rig, serta mengikuti jam kerja yang terbalik (malam syuting, pagi istirahat). Meskipun begitu, Shenina dan para pemain lainnya tetap menikmati proses syuting karena atmosfer yang positif dan kekompakan tim.

Baca Juga: Jatuh Bangun dalam Perjalanan Panjang Hari Film Nasional yang Diperingati Tiap 30 Maret

Film "DO YOU SEE WHAT I SEE" menjanjikan pengalaman menonton yang berbeda dan tak terlupakan dengan visual yang memukau dan cerita yang menarik. Film ini wajib ditonton bagi para pecinta film Indonesia yang ingin merasakan sensasi baru dalam menonton film.

(red)

Editor : Jabrik