Polisi Diduga Intimidasi Pertunjukan Teater Butet dan Agus Noor di Taman Ismail Marzuki

JAKARTA | ARTIK.ID - Penulis naskah teater Agus Noor dan seniman Butet Kartaredjasa diduga mendapatkan intimidasi dari polisi saat menggelar pertunjukan bermuatan satir politik di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Butet mengaku, sebelum pertunjukan berlangsung, sejumlah petugas Kepolisian Sektor Cikini tiba-tiba datang dan meminta penyelenggara membuat surat pernyataan yang isinya tidak menampilkan pertunjukan yang mengandung unsur politik.

Baca Juga: Studio Daluang Gelar Klothek'an di Gedung Teater STKW Surabaya

"Bagi kami itu intimidasi," kata Agus Noor, dikutip dari Tempo, Selasa (5/12).

Dalam surat pernyataan tersebut berisi, penyelenggara berkomitmen untuk tidak melakukan kampanye pemilu, menyebarkan bahan kampanye pemilu, menggunakan atribut partai politik, menggunakan atribut pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, dan kegiatan politik lainnya.

Meskipun telah menandatangani surat itu, Butet tetap menggelar pertunjukan teater berjudul "Musuh Bebuyutan" dalam durasi 150 menit.

Dalam pertunjukan yang berlangsung pada 1 Desember itu, Butet membuka dengan menyapa dan memberikan salam kepada semua kontestan Pemilu 2024.

Dia juga mengatakan bahwa dia harus membuat surat pernyataan tertulis yang ditujukan kepada polisi bahwa dia harus berkomitmen tidak ada unsur politik dalam pertunjukan itu.

Baca Juga: Andromeda dan Anto Baret Tampil di Malam Puncak Kurasi Musik Jalanan Surabaya

"Keren. Selamat datang Orde Baru," kata Butet membuka pertunjukan.

Intimidasi yang dilakukan polisi terhadap pertunjukan teater satir politik ini menuai kecaman dari berbagai pihak.

Mereka menilai bahwa intimidasi semacam itu merupakan bentuk pengekangan kebebasan berekspresi dan kegagalan berdemokrasi.

Baca Juga: Band Rock Andromeda Meriahkan Malam Puncak Kurasi Musik Jalanan Surabaya

"Ini bentuk pengekangan kebebasan berekspresi yang nyata," kata aktivis HAM, Usman Hamid.

Hingga berita ini ditayangkan, polisi belum memberikan penjelasan terkait dugaan intimidasi tersebut

(ara)

Editor : Fudai