artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Guru Besar UNAIR Kembangkan Terapi Teh Hijau untuk Pasien HIV

avatar Amar
  • URL berhasil dicopy
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Dr dr Dwi Murtiastutik SpDVE Subsp Ven FINSDV FAADV
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Dr dr Dwi Murtiastutik SpDVE Subsp Ven FINSDV FAADV

SURABAYA - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr dr Dwi Murtiastutik SpDVE Subsp Ven FINSDV FAADV, memperkenalkan inovasi terapi alternatif berbasis senyawa Epigallocatechin Gallate (EGCG) dari teh hijau untuk membantu menangani kandidiasis oral pada pasien HIV/AIDS. Inovasi tersebut menjadi respons atas meningkatnya kasus resistensi terhadap obat antijamur konvensional.

Gagasan itu dipaparkan Prof Dwi dalam pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Rabu (13/5/2026).

Kandidiasis oral merupakan infeksi oportunistik yang paling sering dialami pasien HIV/AIDS akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. Selama ini, pengobatan umumnya menggunakan obat antijamur seperti flukonazol.

Namun, Prof Dwi menyoroti meningkatnya resistensi jamur terhadap terapi konvensional tersebut sehingga dibutuhkan pengembangan pengobatan alternatif yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Dalam penelitiannya, Prof Dwi memfokuskan kajian pada senyawa EGCG, yakni polifenol utama yang terkandung dalam teh hijau (Camellia sinensis). Senyawa ini dinilai memiliki kemampuan antimikroba sekaligus imunomodulator.

EGCG bekerja melalui dua mekanisme, yakni menghambat pertumbuhan jamur secara langsung dan meningkatkan respons imun mukosa pasien melalui stimulasi sel Th17.

“Meningkatnya resistensi terhadap obat antijamur mendorong pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alami. Epigallocatechin gallate (EGCG) menjadi fokus penelitian karena memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, antitumor, dan antimikroba,” tegas Prof Dwi dalam pidatonya.

Dalam riset yang dilakukan, EGCG disebut menunjukkan efektivitas signifikan dibandingkan terapi standar. Penelitian pada 2019 membuktikan bahwa zona hambat EGCG terhadap spesies Candida non-albicans memiliki hasil yang sangat bermakna secara statistik.

Candida non-albicans sendiri dikenal sebagai jenis jamur yang relatif lebih sulit diobati dibandingkan Candida albicans.

Selain efektivitasnya, Prof Dwi menilai penelitian tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena bahan baku teh hijau mudah diperoleh.

“Berdasarkan hasil riset, EGCG terbukti menghambat pertumbuhan Candida dan mencegah biofilm secara signifikan. Dengan akses bahan baku teh hijau yang mudah, penelitian ini menjadi dasar kuat bahwa EGCG dapat menjadi terapi alternatif kandidiasis oral di masa mendatang,” ungkapnya.

Di akhir pidatonya, Prof Dwi juga membagikan pesan motivasi kepada mahasiswa dan peneliti muda agar tetap gigih dalam menghadapi tantangan akademik maupun penelitian.

“Ibarat orang jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi, berdiri lagi. Lama-lama akan sampai tujuan. Jadi pantang menyerah, semangat, dan tidak perlu putus asa,” pesannya kepada civitas akademika UNAIR. (red)

Editor :