artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Pindapata Rawat Tradisi, Gemakan Setengah Abad Vihara Empu Astapaka

avatar Lani
  • URL berhasil dicopy

Jembrana – Di tengah rangkaian peringatan Hari Trisuci Waisak 2570 BE dan Setengah Abad Vihara Empu Astapaka, tradisi Pindapata kembali menjadi salah satu momen yang paling dinanti oleh umat Buddha. Lebih dari sekadar kegiatan berbagi makanan, Pindapata merupakan praktik spiritual yang sarat makna, mencerminkan hubungan harmonis antara Sangha atau para bhikkhu dengan umat awam.

Pindapata adalah tradisi Buddhis di mana para bhikkhu berjalan kaki sambil membawa mangkuk sedekah (patta) untuk menerima persembahan makanan maupun kebutuhan pokok dari masyarakat. Tradisi yang telah berlangsung sejak zaman Buddha Gautama lebih dari 2.500 tahun lalu ini hingga kini tetap dilestarikan sebagai bagian penting sebagai cara hidup, (mata pencaharian benar) bhikkhu sebagai pertapa.

Dalam pelaksanaannya, para bhikkhu berjalan dengan penuh ketenangan dan kesadaran, sementara umat menyambut bhikkhu dengan memberikan dana berupa makanan pokok. Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut menjadi simbol kesederhanaan, kerendahan hati, serta semangat berbagi yang menjadi inti ajaran Buddha.

Secara filosofis, Pindapata mengandung makna mendalam bagi para bhikkhu. Dengan menggantungkan hidup pada kemurahan hati masyarakat, mereka melatih diri untuk melepaskan kemelekatan terhadap materi, mengikis kesombongan, serta menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh rasa syukur.

Bagi umat awam, Pindapata merupakan kesempatan untuk mempraktikkan Dana Pāramī atau kesempurnaan dalam berdana. Melalui pemberian yang tulus, umat diajak untuk mengembangkan sifat dermawan, mengurangi keakuan, dan menanam benih-benih kebajikan yang diyakini akan membawa manfaat bagi kehidupan saat ini maupun masa mendatang.

Tradisi ini juga menjadi wujud hubungan timbal balik yang harmonis antara Sangha dan masyarakat. Para bhikkhu menerima dukungan material untuk keberlangsungan hidup mereka, sementara umat memperoleh bimbingan spiritual melalui pengajaran Dhamma, nasihat kebijaksanaan, serta lantunan paritta atau doa-doa perlindungan yang membawa ketenangan batin.

Selain itu, Pindapata merupakan sarana latihan kesadaran (sati) bagi para bhikkhu. Setiap langkah yang diambil dalam perjalanan menerima sedekah dilakukan dengan penuh perhatian dan pengendalian diri. Aktivitas tersebut tidak dipandang sebagai upaya mencari makanan semata, melainkan sebagai bagian dari praktik meditasi berjalan yang melatih kewaspadaan terhadap pikiran dan indra.

Nilai penting lainnya yang terkandung dalam Pindapata adalah sikap menerima apa adanya. Para bhikkhu diajarkan untuk menerima makanan apa pun yang diberikan umat tanpa memilih-milih. Sikap ini menjadi latihan untuk mengikis keserakahan sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas setiap pemberian yang diterima.

Dalam konteks kehidupan modern yang kerap diwarnai individualisme dan persaingan, tradisi Pindapata menghadirkan pesan universal tentang pentingnya kepedulian, kebersamaan, dan kesederhanaan. Tradisi ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan untuk memberi dengan tulus dan menerima dengan penuh syukur.

Karena itu, Pindapata tidak hanya menjadi ritual keagamaan bagi umat Buddha, melainkan juga warisan nilai-nilai luhur yang mengajarkan harmoni antara manusia, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Melalui langkah-langkah sunyi para bhikkhu dan ketulusan hati umat yang berdana, tradisi ini terus menebarkan pesan kedamaian dan kebajikan bagi seluruh masyarakat. 

Pindapata yang berlangsung Sabtu, 6 Juni 2026, dimulai dari Gedung Kesenian Dr.Ir Soekarno dan Berakhir di Kebun Raya Jagatnatha ini diikuti oleh 3 Bhikkhu yaitu; B Tejapunnyo Mahathera, B Pabhajayo, B Kusala Sarano. Sesampai di Kebun Raya Jagatnatha dilanjutkan dengan acara melepas 50 burung perkutut, menanam 5 Pohon Bodhi dari 200 Pohon Bodhi yang diserahkan secara simbolis oleh ketua panitia Lie Kok Hin kepada Bupati Jembrana yang diwakili oleh Asisten Ketut Arnita serta donor darah dan berbagi sembako, sementara para bhikkhu makan di bale bengong sisi timur Pura Jagatnatha.(*)

Editor :