SURABAYA - Chavel Aiko Ratu, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya), mengembangkan sebuah sistem informasi bernama Rasaya. Platform ini dirancang untuk mendukung layanan konseling siswa di sekolah.
Rasaya bekerja dengan sistem berbasis peran. Pengguna terdiri dari admin sekolah, guru atau wali kelas, serta siswa. Aksesnya bisa dilakukan melalui website di komputer maupun aplikasi di ponsel pintar.
Baca juga: Mahasiswa Ubaya Raih Dua Medali Perunggu Bridge di Asean University Games 2024
Data yang masuk ke dalam sistem kemudian diolah. Hasilnya berupa rangkuman kondisi dan tren kesehatan mental siswa. Informasi ini dapat membantu guru dan pihak sekolah dalam mengambil keputusan yang lebih tepat.
Chavel menjelaskan, ide pembuatan Rasaya berangkat dari keprihatinannya terhadap minimnya pencatatan kondisi mental siswa di sekolah. Akibatnya, banyak masalah psikologis yang tidak terdeteksi sejak dini dan baru ditangani ketika sudah cukup serius.
Untuk memperkuat gagasan tersebut, ia melakukan studi kasus di salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Data diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada siswa.
“Dari hasil itu, saya menemukan banyak siswa merasa malu untuk menyampaikan perasaan mereka secara langsung kepada guru. Akibatnya, guru tidak sepenuhnya memahami kondisi yang dialami siswa,” ujarnya.
Data yang terkumpul kemudian dibahas bersama dosen pembimbingnya, Dr. Liliana. Dari situ, dirumuskan konsep sistem yang akan dikembangkan.
Chavel mulai merancang Rasaya sambil melakukan riset mandiri. Ia berupaya menghadirkan fitur yang cukup kompleks, namun tetap mudah digunakan oleh berbagai kalangan di lingkungan sekolah.
Dalam proses analisis data, Rasaya menggunakan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis. Metode ini mengelompokkan emosi menjadi positif, negatif, atau netral berdasarkan kamus kata yang telah memiliki nilai tertentu.
Selain itu, sistem juga dilengkapi algoritma klasifikasi. Data siswa dipetakan ke dalam beberapa kategori kondisi, seperti stres akademik atau konflik sosial.
Baca juga: ASEAN University Games Hari Kedua di Ubaya, Indonesia Sapu Bersih Nomor Changquan dan Nangquan
Untuk memastikan akurasi hasilnya, Chavel melibatkan psikolog anak dan remaja. Langkah ini dilakukan guna memvalidasi kesesuaian analisis sistem dengan kondisi nyata siswa.
Rasaya juga memiliki sejumlah fitur pendukung. Di antaranya daily mood tracker, laporan teman, refleksi harian, riwayat emosi, hingga pemantauan tren per kelas dan angkatan.
Dengan pendekatan ini, data yang dihasilkan tidak hanya berasal dari satu sumber. Guru, wali kelas, dan teman sebaya turut berkontribusi sehingga hasilnya lebih objektif.
Output dari sistem dapat digunakan oleh wali kelas maupun guru bimbingan konseling sebagai dasar pendampingan siswa. Proses pemantauan pun menjadi lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan.
Chavel mengakui, tantangan terbesar dalam pengembangan Rasaya ada pada bagian machine learning. Ia harus memastikan algoritma yang dibuat dapat bekerja secara akurat.
“Dari total empat bulan pengerjaan, sekitar tiga bulan saya fokus di pengembangan machine learning. Revisi yang dilakukan juga sangat banyak. Itu cukup berat, tapi jadi pengalaman berharga,” katanya.
Setelah dipresentasikan dalam sidang akhir, Rasaya kini masih dalam tahap penyempurnaan. Chavel berharap sistem ini bisa segera digunakan secara lebih luas.
Ia menargetkan Rasaya dapat membantu berbagai pihak, mulai dari sekolah, siswa, guru, hingga orang tua.
“Saya ingin sistem ini benar-benar bermanfaat. Saat ini saya sedang menyiapkannya agar siap diterapkan secara massal,” tutupnya. (red)
Editor : Fudai