SURABAYA – Pasar batu bara global menghadapi tekanan baru setelah kecelakaan tambang mematikan di China dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekspor Indonesia. Kombinasi dua faktor tersebut dinilai dapat mendorong kenaikan harga batu bara dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Situasi ini terjadi ketika pasokan gas alam cair (LNG) global masih terbatas akibat dampak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang sempat mengganggu jalur distribusi energi internasional.
Perang di Iran sebelumnya memicu penghentian sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang setiap harinya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia. Gangguan tersebut membuat sejumlah negara importir energi, termasuk Jepang dan Korea Selatan, meningkatkan pembelian batu bara berkualitas tinggi sebagai alternatif pasokan energi.
Dampaknya, harga acuan batu bara Newcastle melonjak mendekati level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir dan bertahan di atas US$150 per ton.
Meski demikian, permintaan batu bara kalori rendah yang didominasi ekspor Indonesia sempat tertahan akibat lemahnya kebutuhan dari China dan India. Kedua negara tersebut masih mengandalkan cadangan batu bara yang cukup besar serta peningkatan kapasitas energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.
Namun kondisi pasar mulai berubah setelah ledakan fatal terjadi di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi, China, bulan lalu.
Insiden tersebut memicu inspeksi keselamatan besar-besaran di wilayah penghasil batu bara terbesar China itu. Akibatnya, pasokan batu bara domestik mengalami pengetatan sehingga kebutuhan impor diperkirakan meningkat.
CEO DBX Commodities, Alexandre Claude, memperkirakan impor batu bara termal China pada Juni mencapai 27,8 juta ton, atau naik 27,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurutnya, lonjakan impor itu didorong oleh meningkatnya kebutuhan musiman di tengah terbatasnya pasokan dalam negeri.
“Pembatasan produksi akibat inspeksi keselamatan di Shanxi dan transisi pengelolaan ekspor ke Danantara telah memperketat pasokan batu bara laut atau seaborne coal,” kata Claude.
Ia menilai stok batu bara di pasar internasional mulai menyusut, sementara permintaan tetap kuat. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan harga dalam jangka pendek.
Dari Indonesia, ketidakpastian pasar juga dipicu oleh rencana pemerintah menempatkan seluruh ekspor batu bara di bawah pengelolaan perusahaan negara baru, Danantara.
Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai kelancaran distribusi dan proses ekspor batu bara Indonesia yang selama ini menjadi pemasok terbesar dunia.
Direktur Eksekutif konsultan McCloskey, Scott Dendy, mengungkapkan produksi batu bara termal Indonesia selama empat bulan pertama tahun ini turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jika tren tersebut berlanjut, ekspor batu bara Indonesia diperkirakan turun sekitar 11 persen menjadi 446 juta ton sepanjang tahun ini.
Di saat yang sama, sejumlah negara Asia Tenggara justru meningkatkan kebutuhan batu bara untuk mendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Cuaca yang lebih panas mendorong peningkatan konsumsi batu bara di Vietnam dan Filipina. Sementara Thailand diperkirakan akan meningkatkan impor batu bara karena pasokan gas alam yang semakin ketat.
Direktur I-Energy Resources, Vasudev Pamnani, menyebut kondisi tersebut berpotensi memperkuat permintaan batu bara regional dalam beberapa waktu ke depan.
Prospek kenaikan konsumsi juga diperkuat oleh proyeksi Rystad Energy. Dalam laporan Juni, lembaga tersebut memperkirakan dampak perang Iran dapat menambah konsumsi batu bara hingga 70 juta ton di kawasan Asia-Pasifik pada 2026.
Sementara itu, pemulihan pasokan LNG global diperkirakan tidak berlangsung cepat meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kerangka kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Para pejabat energi menilai normalisasi distribusi membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan pemulihan produksi ke tingkat sebelum konflik dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Di tengah meningkatnya permintaan, pasokan batu bara global justru diproyeksikan menurun.
Manajer Pengembangan Bisnis Argus, Bryan Lim, memperkirakan pasokan batu bara dunia akan turun 5,7 persen menjadi 985 juta ton pada 2026.
Analis juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi memperbesar kebutuhan energi. Associate Professor Sekolah Ilmu Atmosfer Universitas Nanjing, Peng Qihua, mengatakan kondisi kering di wilayah utara China dapat menurunkan produksi listrik tenaga air, sementara suhu yang lebih tinggi akan meningkatkan penggunaan pendingin udara.
Penurunan produksi listrik tenaga air umumnya diikuti peningkatan konsumsi batu bara sebagai sumber pembangkit pengganti.
Di sisi lain, sejumlah negara eksportir batu bara utama juga menghadapi tantangan produksi.
Di Rusia, yang merupakan eksportir batu bara terbesar ketiga dunia, produksi menurun karena sebagian besar perusahaan tambang beroperasi dalam kondisi merugi. Penguatan nilai tukar rubel dan meningkatnya biaya logistik menjadi faktor utama yang menekan industri tersebut.
Australia memang diperkirakan mampu meningkatkan ekspor tahun ini. Namun kenaikan biaya operasional tambang dan keterbatasan pasokan solar masih berpotensi membatasi pertumbuhan produksi.
Sementara itu, India mulai melirik Afrika Selatan sebagai alternatif pemasok batu bara di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan dari Indonesia. Meski demikian, kendala perizinan kapal dan ketidakpastian jadwal pengiriman masih membayangi ekspor batu bara Afrika Selatan sepanjang Juni.
Editor : fuday