Kenapa Desa Wisata Penglipuran Bali Layak Dikunjungi? Ini Jawabannya

Desa Wisata Penglipuran 2023. Foto © Dedi Rahman Siolimbona/ARTIK
Desa Wisata Penglipuran 2023. Foto © Dedi Rahman Siolimbona/ARTIK

JEMBRANA | ARTIK.ID - Desa Penglipuran Bali adalah desa wisata yang menakjubkan, yang mendapat perhatian dari dunia. Pada tahun 2016 lalu, desa ini masuk dalam daftar desa terbersih di dunia bersama dengan Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India.

Jika berkunjung ke sana, kamu akan kagum dengan kecantikan dan kebersihan desa ini, yang bebas dari sampah.

Baca Juga: Merajan Dewa Sidan Saren Hancur Tertimpa Pohon Beringin, Berharap Bantuan Perbaikan dari Pemerintah

Salah satu hal yang unik dari Desa Penglipuran Bali adalah adat musyawarah yang sudah berlangsung sejak dulu secara turun temurun.

Warga desa selalu berkumpul dan berdiskusi jika ada masalah atau keperluan yang harus diselesaikan, seperti saluran air tersumbat, kerja bakti, atau hal lain yang berkaitan dengan lingkungan.

Karena itu, warga desa sangat sayang dan bertanggung jawab terhadap Desa Penglipuran yang merupakan warisan bersama.

Desa wisata Penglipuran juga terkenal dengan kearifan lokalnya. Desa ini tidak hanya indah dan hijau, tapi juga penuh dengan nilai-nilai mulia yang patut kita tiru.

Salah satunya adalah falsafah Tri Hita Karana, yang mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan.

Warga desa ini sangat menjaga kerukunan dan kebersamaan antara mereka, bahkan dengan para pengunjung.

Baca Juga: Tradisi Omed-omedan di Sesetan Denpasar, Bukan Festival Ciuman Masal

Mereka juga sangat peduli dengan lingkungan, sehingga desa ini bersih dan terawat. Dan yang paling penting, mereka sangat taat beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka.

Meski sudah banyak anak muda yang bersekolah sampai perguruan tinggi, mereka tidak melupakan tradisi leluhur yang sudah turun temurun.

Masuk akal jika bila arsitektur yang ada di desa masih kental dengan nuansa budaya Bali dan Hindu karena masih dijaga dengan baik oleh masyarakatnya.

Bangunan-bangunan di sana ditempatkan secara konsisten dari masa ke masa. Misalnya, bangunan suci harus selalu terletak di hulu, perumahan di tengah, sedangkan ladang usaha berada di pinggir atau hilir.

Baca Juga: Luhut Bilang LRT Bali Harus Dilanjutkan Sebagai Solusi Peningkatan Pariwisata

Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng mengatakan, kebersihan desa ini sudah menjadi bagian dari budaya dan karakter masyarakatnya. Mereka merasa wajib untuk menjaga warisan leluhur mereka yang menghargai lingkungan.

Desa Penglipuran yang memiliki 243 keluarga ini juga memiliki aturan desa atau awig-awig yang mengatur tentang kebersihan desa.

Namun, yang unik adalah tidak ada sanksi bagi yang melanggar aturan tersebut. Hanya ada teguran saja. Meski begitu, masyarakat tidak seenaknya membuang sampah sembarangan. Mereka malah merasa terpanggil untuk menjaga keindahan dan keasrian Desa Penglipuran.

(ara)

Editor : Fudai