Proyeksi Ekonomi Indonesia 2024 Versi Artik Merupakan Optimisme yang Terpaksa

avatar Artik News
ilustrasi
ilustrasi

SURABAYA | ARTIK.ID - Ekonomi Indonesia menghadapi tantangan besar di tahun 2024, yang merupakan tahun politik sekaligus tahun yang dipenuhi ketidakpastian global. Di tengah gejolak ekonomi dunia yang belum mereda akibat pandemi Covid-19, perang dagang AS dan China serta perang di Ukraina dan inflasi tinggi di beberapa negara maju.

Salah satu indikator penting yang menjadi sorotan adalah pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 tetap kuat pada kisaran 4,7-5,5%, didukung oleh konsumsi swasta, investasi, dan tetap positifnya kinerja ekspor di tengah pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Baca Juga: MIND ID Kuasai 34% Saham INCO, Menteri ESDM Menyebut Target Tuntas dalam Hitungan Hari

Namun, proyeksi ini lebih rendah dari asumsi dasar ekonomi makro dalam pembahasan rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2024 yang sebesar 5,1-5,7%.

Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merupakan hasil penilaian bersama antara Kementerian Keuangan, BI, Bappenas dan Komisi XI DPR RI terhadap masih besarnya risiko pelemahan ekonomi global.

Termasuk proyeksi dari beberapa lembaga internasional terakhir, seperti Bank Dunia atau World Bank.

Dilansir dari berbagai sumber, menurut Sri Mulyani, penurunan proyeksi itu juga sebagai bentuk upaya dalam mengantisipasi dampak rambatan pelemahan ekonomi global, khususnya yang akan terpengaruh paling jelas dari sisi kinerja ekspor karena permintaan ekonomi global ikut melemah akibat perekonomiannya melambat.

Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan tidak akan begitu ekspansif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: tahun politik yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Kenaikan harga bahan baku impor akibat inflasi global; dan perlambatan investasi karena masih tingginya biaya logistik dan perizinan. Kadin juga mengkhawatirkan dampak dari pengetatan kebijakan moneter di beberapa negara maju terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal masuk ke Indonesia.

Baca Juga: MIKA Gelontorkan Rp 1 Triliun untuk Ekspansi Jaringan Rumah Sakit Baru di Surabaya

Meski demikian, tidak semua pihak pesimis terhadap prospek ekonomi Indonesia di tahun 2024. melansir Okezone, ekonomi RI dinilai tetap cerah di 2024 meski tahun politik.

Hal ini didasarkan pada beberapa alasan, antara lain: pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap solid; peningkatan realisasi belanja pemerintah; percepatan vaksinasi Covid-19; dan perbaikan iklim usaha berkat reformasi struktural.

Selain itu, Bank Dunia atau World Bank memperkirakan bahwa perekonomian dunia dalam kondisi kegentingan pada periode 2023-2024 akan mulai pulih seiring dengan penurunan kasus Covid-19 dan peningkatan mobilitas masyarakat. Namun hal itu tanpa memperhitungkan dampak perang di Ukraina.

Dengan demikian, proyeksi ekonomi Indonesia 2024 masih menyimpan optimisme sekaligus ketidakpastian. Untuk itu, diperlukan sinergi dan inovasi dari semua pihak, baik pemerintah, BI, DPR, pelaku usaha, maupun masyarakat.

Baca Juga: Gudang Garam Dirikan Anak Usaha Baru untuk Garap Tol Kediri-Tulungagung

Sinergi fiskal dan moneter perlu terus diperkuat agar kebijakan ekonomi nasional yang dihasilkan memberikan manfaat yang besar bagi rakyat dan negara dalam memperkuat ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional.

Inovasi juga diperlukan untuk menciptakan produk dan jasa yang kompetitif di pasar global, serta untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan begitu, Indonesia dapat meraih pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing di tahun 2024.

(team/artik.id)

Editor : Fudai