JEMBRANA – Semangat melestarikan budaya lokal berpadu dengan kebersamaan masyarakat mewarnai penyelenggaraan Panggung Budaya Ambenan Ijogading di kawasan Ambenan Ijogading, Kampung Loloan, Kabupaten Jembrana, pada 11–12 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini sukses menghadirkan ruang publik yang inklusif sebagai wadah ekspresi seni, pelestarian tradisi, sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat.
Program tersebut merupakan bagian dari Dana Indonesiana Tahun 2026 Jalur Perseorangan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik, yang bertujuan menghidupkan ruang-ruang publik sebagai pusat aktivitas kebudayaan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Pelaksana sekaligus penerima manfaat Dana Indonesiana Tahun 2026, Muztahidin, S.Kom, mengatakan Panggung Budaya Ambenan Ijogading lahir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan ruang budaya yang mampu menyatukan berbagai elemen tanpa memandang latar belakang.
"Panggung Budaya Ambenan Ijogading adalah bentuk respons terhadap kebutuhan ruang publik yang inklusif dan berakar pada kearifan lokal. Dalam konteks kebijakan pemajuan kebudayaan, kegiatan ini sejalan dengan upaya pelestarian dan pengembangan budaya melalui infrastruktur sosial dan fisik yang berkelanjutan," ujarnya.
Hari pertama diawali dengan santunan kepada anak-anak yatim, sebagai bentuk kepedulian sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai budaya masyarakat Loloan. Suasana kemudian semakin khidmat melalui penampilan Seni Burdah, kesenian religius khas Kampung Loloan yang kini mulai jarang digeluti generasi muda.
Pengunjung juga menikmati beragam sajian kuliner tradisional dan produk UMKM lokal, termasuk tradisi Bubur Syure, yang dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Menjelang malam, suasana semakin semarak dengan penampilan musik akustik dari grup band lokal yang menghibur masyarakat.
Memasuki hari kedua, panggung budaya dipenuhi beragam atraksi seni tradisional yang memukau, mulai dari Palang Pintu, Pantun, Pencak Silat, Tari Awik, Tari Mahaguru, hingga Ambur Salim. Setiap pertunjukan menjadi cerminan kekayaan tradisi Kampung Loloan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tidak hanya menyajikan hiburan, kegiatan ini juga menghadirkan Diskusi Budaya yang melibatkan sekitar 100 perwakilan remaja Muslim dari desa dan kelurahan se-Kabupaten Jembrana. Forum tersebut berlangsung interaktif dengan menghadirkan narasumber Hasbil Ma'ani, H. Muhammad Yunus, dan Bang Pramono AG, serta dipandu moderator Bang Fahrul Mahally, seorang pemerhati budaya.
Dalam sesi tanya jawab, para peserta aktif menyampaikan gagasan mengenai strategi pelestarian budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Diskusi menjadi ruang bertukar ide sekaligus memperkuat kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas budaya daerah.
Sebagai penutup, Sanggar Pilot, yang dikenal sebagai satu-satunya kelompok drama teater di Bali yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pertunjukan, tampil memukau dan mendapat apresiasi meriah dari para penonton.
Muztahidin berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah agenda seremonial, tetapi mampu menjadi pemantik lahirnya ruang-ruang budaya baru di tengah masyarakat.
Menurutnya, kawasan tepian Sungai Ijogading memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat dapat berdiskusi, berkesenian, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebudayaan lokal secara berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan tersebut, khususnya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, LPDP, Remaja Loloan Timur, Ambenan Ijogading, Komunitas Seni Ambenan, Sanggar Pilot, mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang, serta seluruh relawan dan masyarakat yang terlibat.
Melalui kolaborasi lintas komunitas, Panggung Budaya Ambenan Ijogading diharapkan menjadi tonggak lahirnya ruang publik yang semakin hidup, inklusif, harmonis, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi pusat pelestarian serta pengembangan kebudayaan di Kabupaten Jembrana. Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap warisan leluhur, budaya lokal diyakini akan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang. (*)
Editor : Lani