artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

PAC PDIP Bulak Gelar Dialog Kebangsaan, Gali Pemikiran Bung Karno untuk Kedaulatan Bangsa di Era Digital

avatar fuday
  • URL berhasil dicopy
Dari kiri, Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri, Dosen Pendidikan Sejarah UNESA, Rojil Nugroho, dan Ketua PAC PDIP Bulak Abdul Ghoni Mukhlas Ni'am. ARTIK.id/fuday
Dari kiri, Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri, Dosen Pendidikan Sejarah UNESA, Rojil Nugroho, dan Ketua PAC PDIP Bulak Abdul Ghoni Mukhlas Ni'am. ARTIK.id/fuday

PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bulak Surabaya menggelar Dialog Kebangsaan Bulan Bung Karno 2026 dengan tema "Kedaulatan Bangsa di Era Digital". Kegiatan menghadirkan Armuji, Syaifuddin Zuhri, dan akademisi UNESA untuk menguatkan nilai Pancasila, nasionalisme, serta literasi digital generasi muda.

SURABAYA - Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Jumat (19/6 2026). Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Bulak menyelenggarakan Dialog Kebangsaan bertema "Menggali Api Pemikiran Bung Karno untuk Kedaulatan Bangsa di Era Digital".

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang digelar sebagai ruang refleksi, dialog, sekaligus penguatan semangat kebangsaan bagi kader partai, generasi muda, dan masyarakat.

Bulan Bung Karno diperingati melalui tiga momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, yakni Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni, serta Hari Wafat Bung Karno pada 21 Juni.

Ketiga momentum tersebut menjadi pengingat bahwa pemikiran dan perjuangan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya layak dikenang sebagai warisan sejarah, tetapi harus terus dihidupkan sebagai sumber inspirasi dalam menjawab tantangan zaman.

Kegiatan Dialog Kebangsaan ini mendapat antusiasme yang tinggi dari berbagai elemen masyarakat di Kecamatan Bulak.

Selain dihadiri oleh kader dan simpatisan PDI Perjuangan, kegiatan ini juga diikuti oleh tokoh masyarakat Kecamatan Bulak, tokoh agama Kecamatan Bulak, jajaran Karang Taruna Kecamatan Bulak, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Bulak beserta badan otonom (Banom) NU, perwakilan nelayan, tokoh pemuda, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Kehadiran berbagai elemen tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam memperkuat persatuan, sekaligus membangun ruang dialog kebangsaan yang inklusif sebagaimana nilai-nilai yang diwariskan oleh Bung Karno.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Ir. H. Armuji. ARTIK.id/fudayKetua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Ir. H. Armuji. ARTIK.id/fuday

Dalam sambutannya, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Ir. H. Armuji, yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk menanamkan kembali nilai-nilai perjuangan Bung Karno kepada seluruh kader dan masyarakat.

"Bung Karno telah mewariskan fondasi kebangsaan yang sangat kuat melalui Pancasila, semangat gotong royong, serta cita-cita Indonesia yang berdaulat. Tugas kita hari ini adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia," ujar Armuji.

Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bulak, Abdul Ghoni Mukhlas Ni'am, dalam laporannya menyampaikan bahwa Dialog Kebangsaan diselenggarakan sebagai upaya menghadirkan ruang pembelajaran politik yang sehat, dialogis, dan membangun kesadaran ideologis masyarakat, khususnya generasi muda.

"Dialog Kebangsaan ini merupakan ikhtiar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bulak untuk menghidupkan kembali api pemikiran Bung Karno agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, memahami bahwa nilai-nilai Pancasila, gotong royong, nasionalisme, serta semangat berdikari bukan hanya menjadi sejarah, tetapi menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan era digital. Melalui forum ini kami berharap lahir generasi yang cerdas, kritis, berkarakter, dan tetap berpihak kepada kepentingan bangsa serta rakyat. Kehadiran tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, dan para nelayan menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan hanya dapat dibangun melalui kebersamaan seluruh elemen masyarakat," ungkap Abdul Ghoni.

Dialog Kebangsaan menghadirkan dua narasumber yang membahas isu kebangsaan dari perspektif pemerintahan daerah dan akademisi.

Narasumber pertama, H. Syaifuddin Zuhri, Ketua DPRD Kota Surabaya, memaparkan pentingnya peran DPRD sebagai representasi rakyat dalam menjaga semangat kebangsaan serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui kebijakan daerah.

Dalam paparannya, Syaifuddin Zuhri menjelaskan bahwa DPRD memiliki fungsi strategis melalui legislasi, penganggaran, dan pengawasan untuk memastikan seluruh kebijakan daerah berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya pembentukan peraturan daerah yang mampu menjawab kebutuhan publik, khususnya dalam bidang pendidikan, kepemudaan, kebudayaan, dan kesejahteraan sosial.

Selain itu, ia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus menjadi landasan utama dalam setiap proses penyusunan kebijakan daerah agar pembangunan mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.

Menurutnya, tantangan di era digital menuntut DPRD untuk semakin adaptif dalam merespons perubahan sosial sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat guna mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sementara itu, narasumber kedua, Rojil Nugroho Bayu Aji, S.Pd., M.A., Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya, mengajak peserta melihat kembali relevansi pemikiran Bung Karno dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini.

Ia menjelaskan bahwa pemikiran Bung Karno tidak hanya relevan pada masa perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menjadi pedoman penting dalam menghadapi tantangan bangsa di era digital. Menurutnya, konsep kedaulatan bangsa kini tidak lagi dimaknai sebatas kedaulatan wilayah, melainkan juga mencakup kedaulatan informasi, budaya, ekonomi, dan teknologi.

Pemutaran flm pendek bernuansa patriotisme mengawali acara. ARTIK.id/fudayPemutaran flm pendek bernuansa patriotisme mengawali acara. ARTIK.id/fuday

Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai Pancasila, nasionalisme, serta moderasi dalam kehidupan berbangsa harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar mampu menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Rojil juga menekankan bahwa generasi muda harus menjadi pelaku perubahan yang memiliki karakter kuat, berideologi Pancasila, serta menjunjung tinggi semangat nasionalisme. Perkembangan teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan bangsa, meningkatkan literasi digital, dan membangun ruang publik yang sehat, bukan menjadi sarana penyebaran disinformasi maupun perpecahan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, semangat gotong royong dan berdikari sebagaimana diajarkan Bung Karno tetap menjadi fondasi utama dalam membangun Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkepribadian.

Melalui Dialog Kebangsaan ini, PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bulak berharap pemikiran Bung Karno tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi terus menjadi api perjuangan yang membimbing masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman.

Nilai-nilai tentang Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan perlu diterjemahkan menjadi kesadaran baru mengenai pentingnya kedaulatan informasi, literasi digital, etika bermedia sosial, karakter kebangsaan, persatuan, serta keberanian generasi muda untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Melalui penyelenggaraan Dialog Kebangsaan ini, PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bulak menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang pendidikan politik, kebangsaan, dan ideologi Pancasila yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Semangat Bulan Bung Karno diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi gerakan bersama untuk memperkuat persatuan, membangun karakter kebangsaan, serta melahirkan generasi yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan cita-cita besar Bung Karno menuju Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. (red)

Editor :