JAKARTA - Indonesia dan Amerika Serikat resmi memperkuat kemitraan pertahanan bilateral guna menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.
Penguatan kerja sama ini diumumkan melalui pernyataan resmi dari Departemen Pertahanan AS, Kementerian Pertahanan RI, serta Kedutaan Besar AS di Indonesia, menyusul pertemuan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, dengan Menteri Urusan Perang AS, Pete Hegseth, di Pentagon.
Dalam pernyataan tersebut, kedua negara sepakat meningkatkan hubungan pertahanan ke level yang lebih strategis melalui skema Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Kesepakatan ini menjadi tonggak baru dalam lebih dari 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan AS yang telah terjalin sejak 1949.
Melalui kemitraan ini, kerja sama difokuskan pada modernisasi alutsista, penguatan kapasitas pertahanan, peningkatan pendidikan dan pelatihan militer profesional, serta intensifikasi latihan dan operasi bersama.
Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menyebut penandatanganan nota kesepahaman tersebut sebagai bukti komitmen kedua negara dalam mempererat kolaborasi dengan menjunjung tinggi prinsip saling menghormati, kedaulatan, serta kepentingan bersama di kawasan Indo-Pasifik.
Menurutnya, kesepakatan ini menjadi kerangka strategis untuk mendorong kerja sama pertahanan bilateral yang lebih solid demi menjaga stabilitas kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, Hegseth menekankan bahwa hubungan keamanan antara kedua negara terus berkembang dan semakin aktif. Ia juga menyebut Indonesia dan AS telah melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahun.
“Kemitraan ini mencerminkan kekuatan hubungan keamanan kedua negara, memperkuat daya tangkal kawasan, serta mendorong komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,” ujar Hegseth.
Sementara itu, Sjamsoeddin menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
“Kami hadir dengan semangat besar untuk memperkuat kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan dan berlandaskan pada penghormatan terhadap kepentingan nasional masing-masing,” ujarnya.
Kesepakatan ini memiliki tiga pilar utama, yakni penghormatan terhadap kedaulatan, penguatan organisasi dan kapasitas militer, serta peningkatan pelatihan dan kerja sama operasional.
Selain itu, kedua negara juga akan menjajaki berbagai inisiatif baru, seperti pengembangan kemampuan pertahanan asimetris, teknologi militer generasi terbaru di bidang maritim dan bawah laut, hingga sistem otonom. Kerja sama juga mencakup dukungan pemeliharaan dan perbaikan alat utama sistem persenjataan guna meningkatkan kesiapan operasional.
Dalam pernyataan bersama, Indonesia dan AS juga sepakat memperluas pelatihan bersama pasukan khusus untuk mempererat hubungan antarmiliter kedua negara.
Di sisi lain, Hegseth mengapresiasi dukungan Indonesia dalam membantu proses pencarian dan pemulangan jenazah prajurit AS yang gugur, khususnya dari era Perang Dunia II. Ia menyebut kerja sama ini akan terus dilanjutkan melalui lembaga Defense POW/MIA Accounting Agency.
Baik Hegseth maupun Sjamsoeddin menilai kemitraan ini sebagai titik awal dari babak baru hubungan pertahanan kedua negara.
“Ini adalah awal dari misi bersama yang baru bagi kedua negara,” kata Hegseth.
Sebagai catatan, Indonesia dan Amerika Serikat telah menjalin hubungan diplomatik resmi sejak 1949, tidak lama setelah Indonesia meraih kemerdekaan.
Editor : Fudai