Deflasi Bulanan Papua Barat, Upaya Tekan Inflasi Lewat Kebun Ketahanan Pangan Dimulai

MANOKWARI | ARTIK.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan pada Juni 2024 sebesar 3,73 persen (year on year/yoy) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 4,56 persen (yoy).

Kepala BPS Papua Barat Merry saat konferensi pers di Manokwari, Senin,(1/7/2024) mengatakan kenaikan indeks harga dari tiga kelompok pengeluaran memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi tahunan provinsi setempat.

Baca Juga: Buronan Kasus Pemilu 2024 di Papua Barat Ditangkap Tim Gabungan Intelijen Kejati dan TNI AD

Adapun tiga kelompok pengeluaran yang dimaksud yaitu kelompok makanan dan minuman dengan kenaikan indeks harga mencapai 2,56 persen,kelompok transportasi 0,65 persen, dan kelompok restoran 0,20 persen.

"Inflasi tahunan periode Juni 2024 lebih rendah dari bulan sebelumnya dan bulan yang sama tahun 2023," ucap Merry.

Menurut dia terdapat lima komoditas utama yang memberikan andil terbesar atas kondisi inflasi tahunan Papua Barat pada Juni 2024, yaitu beras, tarif angkutan udara, ikan tuna, bawang putih, dan tomat.

Selain itu, BPS juga mencatat ada lima komoditas yang justru mengalami penurunan indeks harga selama periode Juni 2024 meliputi cabai rawit, cumi-cumi, tempe, cabai merah, dan ikan asap.

"Komoditas beras berikan andil inflasi tahunan 1,01 persen, tarif angkutan udara, ikan tuna, dan bawang putih masing-masing 0,25 persen, dan tomat 0,17 persen," ujar Merry.

Secara bulanan,kata Merry, Provinsi Papua Barat justru mengalami deflasi sebesar 0,27 persen pada Juni 2024 dibandingkan periode Mei 2024 (inflasi 1,35 persen) yang dipengaruhi penurunan indeks harga dari tiga kelompok pengeluaran.

Baca Juga: Mentan Amran Minta Papua Barat Optimalkan Pompanisasi dan Oplah Lahan untuk Lumbung Pangan

Ketiga kelompok pengeluaran yang menyumbang deflasi bulanan yaitu kelompok makanan dan minuman (-0,99 persen), kelompok pakaian dan alas kaki (-0,17 persen), serta kelompok kesehatan (-0,04 persen).

"Komoditas penyumbang deflasi bulanan terdiri dari cabai rawit, ikan tuna, ikan kembung, tarif angkutan udara, dan sayur bayam," ucap Merry.

Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat Yacob Fonataba mengatakan, pemerintah provinsi saat ini mulai mengoptimalkan penggarapan kebun ketahanan pangan yang terletak di Kampung Susweni, Kabupaten Manokwari, sebagai upaya menekan laju inflasi.

Kebun itu dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya komoditas tanaman pangan sesuai Instruksi Gubernur Papua Barat Nomor 500.1.1/1040/GPB/2024 menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo saat rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi.

Baca Juga: George Karel Dedaida Menyebut Optimalisasi Sensus OAP Perlu Sinergi Antar Instansi

"47 OPD lingkup pemerintah provinsi, PKK provinsi dan Papua Youth Creative Hub (PYCH) terlibat langsung penggarapan kebun ketahanan pangan," ujar Yacob

Dia menjelaskan bahwa setiap OPD bertanggung jawab melakukan pembersihan lahan (21-28 Juni 2024) kemudian dilanjutkan dengan penyiapan bibit yang ditanam (29 Juni-11 Juli 2024), dan pencanangan penanaman secara serentak (12 Juli 2024).

Total luas keseluruhan kebun percontohan ketahanan pangan tersebut mencapai 43 hektare dengan pembagian tanggung jawab pengelolaan kepada setiap OPD, Tim PKK provinsi, dan PYCH lebih kurang 40x25 meter persegi.

(red)

Editor : Amatus Rahakbauw