BALIKPAPAN - Nama Sarang Musa tercatat dalam sejarah lisan masyarakat Kota Balikpapan sebagai tokoh lokal yang pertama kali menemukan titik minyak pada akhir abad ke-19. Penemuan itu beriringan dengan masuknya Bataafsche Petroleum Maatschappij pada 1897 dan pengeboran Sumur Mathilda, yang menjadi tonggak lahirnya industri perminyakan di Balikpapan. Dari peristiwa inilah Balikpapan kemudian dikenal luas sebagai “Kota Minyak”.
Dari garis keturunan Sarang Musa, lahirlah Dhipa Satwika Oey. Kini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Politik Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Jika leluhurnya dikenang sebagai bagian penting dari sejarah energi di Balikpapan, Dhipa memilih menapaki jalur perjuangan yang berbeda—mengawal arah politik agar tetap berpihak kepada rakyat.
Bagi Dhipa, sejarah keluarga bukan sekadar kebanggaan, melainkan pengingat akan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa kekayaan alam tidak pernah berdiri sendiri. Di baliknya ada masyarakat yang menjaga, tanah yang diwariskan, serta kewajiban moral untuk memastikan hasilnya kembali kepada rakyat. “Politik harus menjadi alat perjuangan, bukan sekadar alat kekuasaan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam tidak boleh menjauh dari prinsip keadilan sosial. Menurutnya, jika Balikpapan dikenal dunia karena minyaknya, maka sudah seharusnya masyarakatnya dikenal karena kesejahteraannya. Negara, kata dia, tidak boleh hanya hadir untuk mengambil manfaat, tetapi juga untuk melindungi dan menyejahterakan.
Melalui perannya di tingkat nasional, Dhipa Satwika Oey membawa semangat historis tersebut dalam kerja-kerja politiknya. Ia berkomitmen mengawal kebijakan publik agar tetap berpijak pada kepentingan rakyat serta cita-cita keadilan sosial yang menjadi fondasi perjuangan bangsa. (*)
Editor : Natasya