China Menghadapi Badai Kritik Barat atas Subsidi Produk Energi Bersih dan EV

JAKARTA | ARTIK.ID - Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) berusaha melindungi industri energi ramah lingkungan mereka dari persaingan yang tidak sehat dari China, yang diduga memberikan subsidi besar dan menjual produk dengan harga murah.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, meminta China untuk tidak memproduksi secara berlebihan produk energi bersih seperti panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik (EV).

Baca Juga: 

"Praktik perdagangan China yang tidak adil mengancam bisnis dan pekerjaan di AS," dikutip dari dw.com, Rabu (12/6)

Washington sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tarif dan menutup celah perdagangan jika China tetap melanjutkan kebijakan subsidi mereka. Perusahaan China sering mengalahkan pesaing Barat karena tenaga kerja murah dan skala ekonomi, ditambah dengan subsidi besar dari pemerintah.

Data tahun 2017 menunjukkan penjualan kendaraan listrik: Tesla Model X (33.000 unit), Zotye Zhidou dari China (42.000 unit), Nissan Leaf dari Jepang (46.000 unit), Tesla Model S (47.000 unit), dan mobil listrik kecil dari China (78.000 unit).

Subsidi industri China jauh lebih besar daripada di AS atau UE, mencakup hampir semua sektor. Menurut Institut Kiel untuk Ekonomi Dunia (IfW-Kiel), subsidi China pada 2019 mencapai €221 miliar atau 1,73% dari PDB. Subsidi untuk produsen mobil listrik BYD pada 2022 meningkat menjadi €2,1 miliar dari €220 juta pada dua tahun sebelumnya.

China meningkatkan ekspor kendaraan listrik meski permintaan global menurun. Tahun lalu, China mengekspor lebih dari 100.000 mobil, terutama ke Eropa. Uni Eropa sedang mempertimbangkan tarif lebih tinggi untuk mobil listrik China, sementara AS sudah memberlakukan tarif 27%.

Meskipun ada ancaman tarif, produsen China tetap meningkatkan produksi. Konsumen Barat mendapatkan manfaat dari harga yang lebih murah, namun produsen Barat khawatir akan pembalasan dari China jika tarif ditingkatkan.

China telah mendominasi pasar energi hijau, termasuk panel surya dan turbin angin, yang menyebabkan beberapa industri domestik di Barat bangkrut. Uni Eropa dan AS mengadakan penyelidikan atas subsidi China yang dianggap tidak adil.

China berencana untuk menjadi ekonomi terbesar di dunia pada medio 2040-an, dan meningkatkan investasi di teknologi tinggi. Meskipun demikian, para ahli percaya bahwa China memerlukan pasar yang kuat dan stabilitas untuk mencapai tujuannya, yang memberikan AS dan UE keunggulan dalam negosiasi.

Editor : Jabrik