SURABAYA – Keputusan Pemerintah Kota Surabaya memutasi Lurah Tambak Wedi, Muchammad Yusufian, menyusul viralnya dugaan pungutan liar (pungli) di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Tambak Wedi, memicu gelombang penolakan dari masyarakat setempat.
Merasa kehilangan sosok pemimpin yang dinilai dekat dengan warga, tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, LPMK, hingga tokoh pemuda menggelar rapat luar biasa sebagai bentuk sikap bersama. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan dari RW 01 hingga RW 04 yang membawahi sebanyak 56 RT, Kamis (07/09).
Baca juga: Dilapori Ada Pungli di SWK, Eri Cahyadi Marah Besar hingga Berujung Pencopotan Lurah Tambak Wedi
Ketua RW 01, Achmad Sholeh, mengaku kecewa atas keputusan mutasi yang dilakukan secara mendadak. Menurutnya, kebijakan tersebut mengejutkan seluruh elemen masyarakat karena Muchammad Yusufian selama ini dikenal sebagai lurah yang aktif dan responsif terhadap kebutuhan warga.
"Kami sangat kecewa dan sedih. Mutasi ini membuat syok seluruh elemen masyarakat di Tambak Wedi," ujarnya pada warta artik.id
Hal senada disampaikan Ketua RW 03, Ade Sugiarto. Ia menegaskan seluruh peserta rapat sepakat akan menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Surabaya agar mempertimbangkan kembali keputusan tersebut dan mengembalikan Muhammad Yusufian sebagai Lurah Tambak Wedi.
"Kami sudah merasakan angin segar di bawah kepemimpinan Pak Fian. Beliau adalah pemimpin yang memahami kondisi warganya dan memiliki gagasan yang cemerlang untuk kemajuan Tambak Wedi," kata Ade.
Menurut warga, selama memimpin Tambak Wedi, Muhammad Yusufian melahirkan sejumlah inovasi yang langsung menyentuh masyarakat. Salah satunya adalah program Kopasga (Ngopi Bareng Warga) yang digelar rutin setiap bulan secara bergilir di setiap RW.
Baca juga: DPRD Surabaya Evaluasi OPD dengan SILPA APBD 2025 Tinggi, Syaifuddin Zuhri Soroti Kinerja Program
Melalui kegiatan tersebut, lurah bersama perangkat kelurahan turun langsung menemui masyarakat, menyerap aspirasi, bahkan melakukan dialog hingga malam hari guna mencari solusi atas berbagai persoalan warga.
Dalam hasil rapat luar biasa itu, seluruh elemen masyarakat menyepakati beberapa poin penting, di antaranya meminta Pemerintah Kota Surabaya membatalkan mutasi Muchammad Yusufian dan mengembalikannya sebagai Lurah Tambak Wedi.
Baca juga: Pemkot Surabaya Catat SiLPA Rp516 Miliar pada APBD 2025, PAD 2026 Masih On Track
Warga menilai pemerintah merupakan pelayan masyarakat sehingga suara masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan kebijakan.
"Kami berkumpul di sini menyatukan suara untuk meminta Bapak Wali Kota Surabaya mengabulkan aspirasi kami. Mencari pemimpin seperti Pak Fian bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit," ujar Ade Sugiarto.
Masyarakat berharap aspirasi tersebut dapat didengar oleh Pemerintah Kota Surabaya sehingga Muchammad Yusufian dapat kembali memimpin Tambak Wedi dan melanjutkan berbagai program yang dinilai telah membawa perubahan positif bagi lingkungan serta kesejahteraan warga.
Editor : rudi