SURABAYA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terus mempercepat langkah transformasi bisnis melalui restrukturisasi portofolio, optimalisasi aset, dan penataan ulang struktur usaha. Perusahaan menargetkan penguatan fokus pada bisnis telekomunikasi dan layanan digital sebagai inti pertumbuhan ke depan.
Transformasi ini dijalankan dalam kerangka strategi TLKM 30, yang salah satunya diwujudkan melalui penataan bisnis non-inti atau streamlining. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperbesar kontribusi aset terhadap kinerja perusahaan.
Baca juga: Komisi D DPRD Surabaya : Fasilitasi Penyelesaian Kompensasi Pekerja Outsourcing Telkom.
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini, menyebut penataan portofolio menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan. “Perseroan melakukan penataan portofolio non-core business agar dapat mendorong kontribusi yang lebih optimal dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui divestasi AdMedika beserta anak usahanya TelkoMedika. Proses ini telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dan ditargetkan rampung pada akhir semester pertama 2026.
Selain divestasi, Telkom juga melakukan langkah unlocking value melalui pemisahan sebagian bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia. Proses ini ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025 sebagai tahap awal fiber carve-out.
Baca juga: Anak Usaha Telkom, UPOINT Berpartisipasi dalam Perhelatan Games ChinaJoy 2023
Menurut Dian, strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memperkuat Return on Assets (ROA). Di saat yang sama, langkah ini juga mendukung peran Telkom dalam memperluas konektivitas digital nasional.
“Transformasi ini menjadi bagian dari arah perubahan Telkom menuju strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai dan pengelolaan portofolio bisnis secara optimal,” jelasnya.
Baca juga: Telkom Indonesia Akselerasi Pembelajaran Digital Bagi Siswa Lebih Berkualitas
Di sisi lain, Telkom juga tengah mengubah model organisasi dari operating holding menjadi strategic holding melalui proses delayering. Struktur baru ini akan memusatkan bisnis ke dalam empat segmen Operating Company (OpCo), yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Dian menegaskan bahwa perubahan tersebut diharapkan memperkuat fundamental perusahaan secara berkelanjutan. Selain itu, restrukturisasi ini juga ditujukan untuk meningkatkan harmonisasi lini bisnis dan efektivitas tata kelola perusahaan. (ciz)
Editor : Fudai