SURABAYA - Dalam semangat peringatan Hari Kartini 2026, Warga Rw 01 kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng menghadirkan bukti nyata bahwa emansipasi perempuan terus bergerak maju dan relevan dengan perkembangan zaman.
Hal ini ditandai dengan launching Batik Gangsing, sebuah karya yang tidak hanya bernilai seni, tetapi juga menjadi simbol kemandirian dan daya saing perempuan di era modern.
Baca juga: Dari Ziarah Wali 5, Agus Mashuri Dorong Kader Muda NU Sambikerep Jadi Generasi Berkarakter
Peluncuran Batik Gangsing menjadi representasi keniscayaan perempuan masa kini tidak lagi berada dalam batasan-batasan lama. Mereka mampu menembus ruang-ruang produktif, mengembangkan kreativitas, hingga berkontribusi dalam penguatan ekonomi lokal.
Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya, menjadikan tradisi sebagai kekuatan untuk menghadapi tantangan global.
Semangat yang diusung tidak lepas dari nilai perjuangan R.A. Kartini yang terus hidup lintas generasi. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan, kini perempuan RW 01 Kelurahan Airlangga menjawabnya melalui karya, inovasi, dan keberanian untuk bersaing di berbagai bidang.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya, Ajeng Wira Wati, memaknai momentum ini sebagai refleksi penting atas perjalanan panjang emansipasi perempuan. Menurutnya, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa perempuan harus terus diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi.
Baca juga: QRIS Parkir Disebut Bisa Masuk ke Jukir Lain, DPRD Surabaya Minta Sistem Dibenahi
Ia menegaskan, langkah yang dilakukan Warga RW01 kelurahan Airlangga melalui Batik Gangsing adalah contoh konkret bagaimana perempuan bisa menjadi motor penggerak ekonomi kreatif.
“Perempuan hari ini harus berani tampil, mandiri, dan mampu menciptakan peluang. Apa yang dilakukan di Gubeng adalah gambaran nyata,perempuan kota Surabaya tidak tertinggal, justru menjadi pelopor perubahan,” ungkapnya pada Warta Artik.id Selasa (21/04).
Lebih jauh, Ajeng juga mendorong agar program-program pemberdayaan perempuan seperti ini terus diperluas, tidak hanya di satu wilayah, tetapi menyebar ke seluruh penjuru Kota Surabaya.
Baca juga: Josiah Michael Usulkan Parkir Tepi Jalan Surabaya Gratis, Ini Alasannya..!!
"Dengan dukungan yang tepat, perempuan diyakini mampu menjadi pilar penting dalam pembangunan, baik di sektor ekonomi, sosial, maupun budaya,"bebernya.
Melalui momentum ini,kata Ajeng, perempuan Surabaya tidak hanya memperingati Hari Kartini, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan tersebut dalam bentuk yang lebih kontekstual.
"Batik Gangsing hadir bukan sekadar produk, melainkan simbol bahwa perempuan masa kini mampu berdiri sejajar, berdaya, dan terus melangkah maju membawa perubahan bagi masa depan,"pungkasnya. (rda)
Editor : rudi