artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Asal Usul Kota Surabaya, Dari Kerajaan Majapahit hingga Dijuluki Kota Pahlawan

avatar fuday
  • URL berhasil dicopy
Drama Kolosal detik-detik sebelum perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, ARTIK.id/fuday
Drama Kolosal detik-detik sebelum perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, ARTIK.id/fuday


SURABAYA bukan sekadar ibu kota Jawa Timur. Kota ini adalah simbol keberanian, pusat pergerakan ekonomi, sekaligus rumah bagi jutaan warga yang hidup dengan semangat pantang menyerah. Di balik hiruk-pikuk jalanan, gedung modern, dan kawasan bisnis yang terus berkembang, Surabaya menyimpan sejarah panjang yang membentuk identitasnya hingga hari ini.

Nama Surabaya sendiri berasal dari kata suro (hiu) dan boyo (buaya) dalam bahasa Jawa. Ada pula makna filosofis yang lebih dalam, yakni Sura Ing Baya, yang berarti keberanian menghadapi segala ancaman dan tantangan. Nilai itulah yang terus melekat dalam karakter Arek Suroboyo dari masa ke masa.

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya kini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan industri di kawasan timur Nusantara. Namun, jauh sebelum menjelma menjadi metropolitan modern, kota ini telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa.

Kota Pelabuhan yang Tumbuh Bersama Peradaban
Secara geografis, Surabaya berada di pesisir utara Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Selat Madura. Letak strategis tersebut menjadikannya pelabuhan utama sejak era Kerajaan Majapahit.

Di masa lalu, muara Kali Mas menjadi gerbang penting lalu lintas perdagangan antarpulau maupun mancanegara. Aktivitas ekonomi yang ramai membuat Surabaya berkembang sebagai pusat distribusi barang dari wilayah timur Jawa menuju berbagai daerah bahkan hingga pasar internasional.

Ketika memasuki masa kolonial Belanda, posisi Surabaya semakin menguat. Pemerintah kolonial menjadikannya pelabuhan utama untuk mengumpulkan hasil perkebunan dari berbagai daerah di Jawa Timur sebelum diekspor ke Eropa.

Peran tersebut terus berlanjut hingga kini. Surabaya menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan berbagai kota di kawasan Gerbangkertosusila, meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan Jombang.

Awal Mula Surabaya dan Kemenangan Majapahit
Hari jadi Surabaya diperingati setiap tanggal 31 Mei. Tanggal tersebut merujuk pada kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya atas pasukan Mongol utusan Kubilai Khan pada tahun 1293.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, pasukan Mongol yang datang melalui laut dianalogikan sebagai ikan hiu atau suro. Sementara pasukan Raden Wijaya yang bergerak dari daratan diibaratkan sebagai boyo atau buaya.

Dari peristiwa itulah lahir simbol Surabaya yang terkenal hingga sekarang “hiu dan buaya yang saling berhadapan” Simbol tersebut tidak hanya menjadi ikon kota, tetapi juga menggambarkan keberanian menghadapi ancaman yang datang dari berbagai arah.

Kota yang Ditempa oleh Semangat Kepahlawanan
Identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan tidak muncul begitu saja. Julukan tersebut lahir dari salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Indonesia, yakni Pertempuran 10 November 1945.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan Inggris dan Sekutu datang ke Surabaya dengan alasan melucuti tentara Jepang. Situasi kemudian memanas akibat berbagai kesalahpahaman dan konflik yang berujung pada pecahnya pertempuran besar.

Puncaknya terjadi setelah tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada 30 Oktober 1945 di sekitar kawasan Jembatan Merah. Insiden tersebut memicu pengerahan pasukan besar-besaran oleh Inggris ke Surabaya.

Pada 10 November 1945, serangan udara dan darat dilancarkan. Namun, ribuan pejuang serta warga Surabaya memilih bertahan. Dengan persenjataan sederhana, mereka menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih modern.

Pertempuran berlangsung sengit selama berhari-hari dan menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Meski kota mengalami kehancuran, semangat perlawanan rakyat Surabaya menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa bersejarah itu kemudian dikenang setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Dari Kota Lama Menuju Metropolitan Modern
Perkembangan Surabaya sebagai kota modern dimulai sejak awal abad ke-20. Kawasan yang sebelumnya berpusat di sekitar Jembatan Merah mulai meluas ke berbagai wilayah seperti Darmo, Gubeng, Ketabang, dan Sawahan.

Pembangunan pelabuhan modern pada 1917 semakin memperkuat peran Surabaya sebagai pusat perdagangan nasional.

Pada tahun 1926, Surabaya resmi ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur. Sejak saat itu, kota ini berkembang pesat menjadi salah satu pusat ekonomi paling penting di Indonesia.

Kini, Surabaya memiliki 31 kecamatan dan 153 kelurahan. Wilayahnya membentang dari kawasan pesisir hingga daerah selatan yang memiliki kontur lebih tinggi.

Jejak Islam dan Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Surabaya juga menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pada abad ke-15, salah satu anggota Wali Songo, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di kawasan Ampel.

Hingga sekarang, kawasan tersebut masih menjadi destinasi religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Kehadiran Masjid Ampel menjadi bukti bahwa Surabaya tidak hanya tumbuh sebagai kota perdagangan, tetapi juga sebagai pusat perkembangan budaya dan spiritual.

Keberagaman etnis yang telah berlangsung selama ratusan tahun turut membentuk karakter kota ini. Jejak komunitas Arab, Tionghoa, Melayu, dan Eropa masih dapat ditemukan melalui bangunan bersejarah, tradisi kuliner, hingga kawasan-kawasan tua yang tetap bertahan di tengah modernisasi.

Surabaya Hari Ini, Kota yang Terus Bergerak Maju
Bagi warganya, Surabaya, bukan hanya tempat tinggal. Kota ini adalah ruang untuk bertumbuh, bekerja, belajar, dan membangun masa depan.

Semangat keberanian yang diwariskan para pendahulu kini hadir dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi mengangkat bambu runcing di medan perang, melainkan keberanian menghadapi perubahan zaman, membangun inovasi, dan menjaga kualitas hidup masyarakat.

Di tengah transformasi sebagai kota metropolitan, Surabaya tetap menjaga identitasnya sebagai Kota Pahlawan. Sebuah kota yang lahir dari keberanian, dibesarkan oleh sejarah, dan terus melangkah menuju masa depan.

(Dari Redaksi)

Editor :