Eri Cahyadi Resmikan Rumah Maggot dan Eco Enzim untuk Mendukung Ekonomi Warga

Wali Kota Surabaya resmikan rumah Maggot di Sekolahan II No 2, Jambangan, Surabaya, Senin (18/3).
Wali Kota Surabaya resmikan rumah Maggot di Sekolahan II No 2, Jambangan, Surabaya, Senin (18/3).

SURABAYA | ARTIK.ID - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, didampingi oleh Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani Eri Cahyadi, meresmikan Rumah Maggot dan Eco Enzim di Jl. Kebonsari Sekolahan II No 2, Jambangan, Surabaya, Senin (18/3).

Baca Juga: Antisipasi Banjir, Ipuk Fiestiandani Normalisasi Sungai di Berbagai Wilayah di Banyuwangi

Baca Juga: Wali Kota Eri Cahyadi Gelar Bank Jatim QRIS Ramadan Vaganza di Balai Kota Surabaya

Rumah baru ini, yang pembangunannya bernilai Rp 394 juta, merupakan bantuan dari BRI melalui program BRI Peduli “Yok Kita GAS-Bank Sampah”

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Eri mengucapkan terima kasih kepada pihak BRI, khususnya BRI Cabang Surabaya Jemursari, yang telah membantu warga Kota Surabaya dengan membangun Rumah Maggot dan Eco Enzim.

Baca Juga: Wali Kita Eri Cahyadi Nonton Bareng Film "Kartolo Numpak Terang Bulan" di XXI TP

Menurutnya, ini akan sangat membantu menggerakkan ekonomi warga Kota Surabaya, terutama mengingat permintaan pasar sebesar 5 ton per hari.

Baca Juga: Eri Cahyadi Lakukan Asesmen Ulang Kekuatan Bangunan Rumah Sakit Terhadap Gempa

“Tapi ternyata kita hanya bisa menyediakan beberapa kilogram dalam sehari, makanya Rumah Maggot dan Eco Enzim ini akan terus kita kembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar sebanyak 5 ton per hari,” tegas Wali Kota Eri.

Selanjutnya, rencananya maggot yang masih berada di lantai akan diberikan tingkat. Bahkan, Wali Kota Eri juga meminta jajarannya untuk membangun gedung baru di sisi barat Rumah Maggot dan Eco Enzim.

Bangunan yang akan dibangun direncanakan memiliki 2-3 tingkat, sehingga diharapkan dengan adanya gedung baru ini dapat memenuhi kebutuhan pasar sebanyak 5 ton per hari.
 
“Jadi, dalam satu area itu nanti akan ada maggot, eco enzim dan juga pertanian terpadu. Saya harap ini bisa diresmikan pada bulan Mei atau Juni mendatang,” katanya. 
 
Eri Cahyadi juga menyampaikan bahwa dengan budidaya maggot itu tidak hanya maggotnya yang bisa dijual, namun bisa pula menjadi pupuk kompos dan bisa juga bermanfaat menjadi eco enzim. Bahkan, eco enzim ini bisa menjadi pembersih udara, cuci piring, sabun, penjernih air dan sebagainya. 
 
“Makanya, yang eco enzim ini akan kita uji lab semuanya, kalau ini berhasil dan sudah keluar hasil labnya dan layak untuk digunakan, maka ini akan saya terapkan di semua wilayah Surabaya,” tegasnya. 
 
Di samping itu, dengan adanya maggot ini maka tentu akan bisa mengurangi jumlah sampah, termasuk jumlah sampah yang akan masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), sehingga dia berharap warga Surabaya bisa bersahabat dengan sampah. Pasalnya, sampah itu bisa menghasilkan uang dengan berbagai inovasi-inovasinya. 

Baca Juga: Gempa Susulan Mengguncang Jatim 58 Kali, Surabaya Bangun Tenda Rumah Sakit Darurat

“Jadi, Rumah Maggot dan Eco Enzim ini akan terus kita kembangkan, dan Kebonsari ini akan menjadi pioner untuk kita kembangkan lebih luas lagi di seluruh wilayah Surabaya,” tegasnya. 
 
Oleh karena itu, sekali lagi Wali Kota Eri menyampaikan terimakasih kepada BRI dan semua pihak yang telah membantu berdirinya rumah tersebut. Menurutnya, semua menjadi satu dan menjadi kekuatan besar, sehingga hasilnya juga sangat luar bisa. 
 
“Yang terpenting lagi, hal-hal seperti inilah yang memang saya inginkan. Jadi, saya selama ini ingin tahu potensi besar di kelurahan atau kecamatan di seluruh Surabaya. Kalau sudah diketahui potensinya, maka tugas pemerintah kota untuk mensupportnya, sehingga polanya bukan top down, tapi benar-benar berasal dari keinginan warga dan kita support supaya berkembang dan menjadi besar,”ujarnya.
 
Sementara itu, Pemimpin Cabang BRI Cabang Surabaya Jemursari Fenny Amalo mengaku sangat senang karena ternyata bantuan dari BRI itu bisa diterima dengan sangat antusias dan bahkan akan dikembangkan lagi. Menurutnya, untuk memenuhi permintaan pasar 50 ton perhari, dia memperkirakan masih perlu pengembangan sekitar 10-20 kali lipat dari yang sudah dibantu oleh BRI. 
 
“Jadi, yang dari BRI Peduli ini cuma stimulan ya, artinya buat masyarakat Kelurahan Kebonsari tapi ternyata disambut antusias oleh Pak Wali Kota dan akan dikembangkan lagi sampai memenuhi kebutuhan pasar 5 ton perhari dan itu luar biasa ya,” kata dia. 
 
Fenny juga menjelaskan alasan dipilihnya Kelurahan Kebonsari menjadi lokasi bantuan dari BRI Peduli. Pasalnya, ketika timnya melihat ke lokasi di Kelurahan Kebonsari, semangat masyarakatnya dan kemampuan masyarakatnya dalam pengelolaan sampah organik sangat luar biasa. “Karena semangat dan skill itulah akhirnya BRI Peduli diberikan kepada Kelurahan Kebonsari,” pungkasnya.

(red)

Editor : Slow