JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengingatkan agar konflik global tidak disederhanakan sebagai persoalan benturan agama maupun peradaban.
Menurutnya, berbagai perang, krisis, dan ketegangan politik yang terjadi saat ini lebih banyak berkaitan dengan perebutan hegemoni dan kepentingan pragmatis para aktor global.
Gus Yahya menyampaikan pandangan tersebut saat peluncuran buku Islam, Conflict, and Political Transformation in Southeast Asia di Auditorium Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Ia secara khusus menyoroti kecenderungan sebagian akademisi Barat dan pengamat internasional yang kerap membagi umat Islam ke dalam sejumlah kategori, seperti Islam moderat, fundamentalis, hingga radikal.
Menurut Gus Yahya, cara pandang tersebut berisiko membuat persoalan geopolitik yang lebih kompleks menjadi seolah-olah hanya persoalan ideologi dan agama.
“Agama, etnisitas, dan ras di dalam pertarungan hegemoni ini perannya adalah peran instrumental saja, bukan akar masalah,” ujar Gus Yahya.
Ia menjelaskan, identitas agama, etnis maupun ras dapat digunakan sebagai instrumen ketika sebuah bangsa menghadapi ancaman atau invasi.
“Ketika sebuah bangsa diinvasi atau terancam, instrumen apa pun akan digunakan untuk melawan, termasuk sentimen keagamaan,” lanjutnya.
Berkaca dari Indonesia
Untuk menjelaskan pandangannya, Gus Yahya membawa sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai contoh.
Ia menilai perjuangan rakyat Indonesia pada 1945 tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif agama. Saat itu, seluruh elemen bangsa memiliki kepentingan yang sama untuk mempertahankan kedaulatan dari penjajahan.
“Kalau tahun 1945 seluruh pejuang kita bersikap 'moderat' terhadap penjajah, Indonesia tidak akan pernah merdeka. Semua orang saat itu harus bersikap tegas dan radikal demi memperjuangkan kemerdekaan,” tegasnya.
Menurut Gus Yahya, konteks menjadi penting dalam memahami sikap politik suatu kelompok. Label moderat maupun radikal tidak bisa dilepaskan begitu saja dari situasi, kepentingan, dan ancaman yang dihadapi.
Ketika Dunia Menjadi Satu
Gus Yahya juga melihat dunia sedang bergerak menuju satu peradaban global yang semakin terintegrasi dan saling memengaruhi.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai one single interfused global civilization. Dalam kondisi tersebut, tidak ada negara yang benar-benar mampu hidup sendiri tanpa terpengaruh dinamika global.
Namun, keterhubungan global tersebut sekaligus melahirkan persaingan baru. Negara-negara besar menghadapi kekhawatiran terhadap berkurangnya kontrol mereka atas jaringan global.
Gus Yahya menilai Amerika Serikat, misalnya, dapat memandang hilangnya kontrol atas jaringan global sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan pengaruh dan hegemoninya.
Untuk mempertahankan pengaruh tersebut, menurut Gus Yahya, terdapat dua pola yang dapat digunakan, yakni kooptasi dan netralisasi.
Kooptasi dilakukan dengan merangkul dan memengaruhi aktor-aktor penting di kawasan sasaran agar berada dalam orbit kepentingan atau aliansi tertentu.
Sementara netralisasi dilakukan terhadap aktor lokal yang tidak bersedia dikooptasi dengan cara melemahkan kapasitas strategis mereka, termasuk melalui penciptaan ketidakstabilan di kawasan.
Pandangan Gus Yahya tersebut sekaligus mengajak publik melihat konflik internasional secara lebih kritis. Di balik identitas agama, etnis, maupun ras yang terlihat di permukaan, terdapat pertarungan kepentingan dan kekuasaan yang jauh lebih kompleks.
Dengan perspektif tersebut, memahami konflik global membutuhkan pembacaan yang lebih utuh terhadap geopolitik, kepentingan strategis, dan perebutan hegemoni, bukan sekadar memberi label terhadap kelompok agama tertentu.
Editor : Mohammad