artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Kasus Joki UTBK Surabaya Terungkap, Reni Astuti Desak Penindakan Tegas Pelaku

avatar Fudai
  • URL berhasil dicopy
Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jatim I Surabaya (FOTO fuday)
Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jatim I Surabaya (FOTO fuday)

SURABAYA - Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jatim I Surabaya-Sidoarjo, Reni Astuti, mengapresiasi keberhasilan Polrestabes Surabaya dalam membongkar jaringan joki UTBK yang diduga membantu ratusan peserta masuk perguruan tinggi negeri secara ilegal.

Menurut Reni, terungkapnya kasus ini menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan. Ia menilai praktik kecurangan dalam seleksi masuk PTN ternyata dilakukan secara terstruktur dan melibatkan sindikat yang rapi.

Karena itu, ia meminta aparat kepolisian mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat tanpa tebang pilih.

“Kami mengapresiasi langkah cepat dan tegas Polrestabes Surabaya. Kasus ini harus dibongkar sampai tuntas agar kepercayaan masyarakat terhadap sistem seleksi pendidikan tinggi tetap terjaga,” kata Reni, Jumat (8/5/2026).

Reni juga memberi dukungan kepada panitia Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Ia menilai pengawasan pelaksanaan UTBK tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Menurutnya, kemampuan panitia mendeteksi peserta yang diduga curang menunjukkan sistem keamanan dan pengawasan mulai diperketat.

Ia menegaskan, penanganan kasus secara terbuka penting untuk memberikan efek jera bagi para pelaku.

“Dunia pendidikan tidak boleh dirusak oleh praktik yang mencederai nilai kejujuran dan meritokrasi,” ujarnya.

Kasus ini bermula saat pengawas UTBK di kampus Universitas Negeri Surabaya mencurigai identitas seorang peserta berinisial HR. Foto administrasi peserta disebut mirip dengan data lama, tetapi menggunakan identitas berbeda.

Dari hasil penyelidikan lanjutan, polisi menemukan dugaan adanya jaringan joki yang telah beroperasi selama beberapa tahun terakhir.

Kapolrestabes Surabaya, Luthfie Sulistiawan, mengatakan sindikat tersebut bekerja secara terorganisasi dengan pembagian tugas yang jelas di antara para pelaku.

“Jaringan ini bekerja secara terstruktur dengan kendali dari koordinator utama,” ujar Luthfie.

Polisi juga mengungkap nilai transaksi dalam praktik kecurangan tersebut sangat besar. Untuk membantu peserta lolos ke jurusan favorit, khususnya Fakultas Kedokteran di PTN ternama, tarif jasa joki disebut mencapai Rp700 juta per orang.

Setiap pelaku diduga memiliki peran berbeda, mulai dari merekrut peserta, menjadi joki ujian, membuat identitas palsu, hingga mengatur proses administrasi.

Sejauh ini, polisi telah mengamankan 14 tersangka. Sementara itu, dua orang yang diduga menjadi aktor utama jaringan tersebut masih diburu aparat kepolisian. (red)

 

 

Editor :