Sejarah dan Perjalanan PT PAL Indonesia dari Galangan Kapal Hindia Belanda

SURABAYA - PT PAL Indonesia (Persero) merupakan salah satu perusahaan strategis milik negara yang bergerak di bidang industri galangan kapal. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen kapal perang, kapal niaga, hingga kapal khusus. 

Selain itu PT PAL juga merupakan penyedia berbagai layanan pendukung kelautan seperti manajemen kapal, pengawakan, penyewaan kapal, agen pengapalan, hingga perencanaan perawatan.

Baca Juga: Cerita di Balik Lahirnya Monumen Kapal Selam Surabaya sebagai Ikon Wisata Maritim

Saat ini, PT PAL berada di bawah holding BUMN pertahanan yang dikendalikan oleh PT Len Industri (Persero), dengan kantor pusat di Surabaya dan perwakilan di Jakarta.

Awal Berdiri di Era Kolonial

Sejarah PT PAL bermula pada tahun 1939, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan galangan kapal bernama Marine Establishment (ME) di Surabaya. Fasilitas ini difokuskan untuk mendukung kebutuhan perkapalan dan militer laut Hindia Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pada 27 Desember 1949, pengelolaan ME diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Nama perusahaan kemudian berubah menjadi Graving Dock dan Penataran TNI Angkatan Laut (PAL), yang berfungsi sebagai galangan perawatan sekaligus pembuatan kapal untuk kepentingan pertahanan laut nasional.

Perubahan Status dan Perluasan Kapasitas

Memasuki tahun 1978, status PAL ditingkatkan menjadi perusahaan umum (Perum Dok dan Galangan Kapal). Transformasi besar terjadi pada tahun 1983, ketika PT PAL menjalin kerja sama dengan Friedrich Lurssen Werft, galangan kapal asal Jerman, untuk memproduksi Kapal Patroli Cepat (KPC) berukuran 28 meter dan 57 meter.

Di tahun yang sama, sebagai bagian dari program alih teknologi dengan Jepang, perusahaan ini berhasil membangun kapal tanker berkapasitas 3.500 DWT serta kapal niaga Caraka Jaya berbobot 3.000 DWT. Hal ini menandai kemampuan Indonesia dalam memproduksi kapal niaga berstandar internasional.

Era Modernisasi dan Pengembangan Produk

Pada 1985, status perusahaan diubah menjadi persero dengan nama PT PAL Indonesia (Persero). Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Bacharuddin Jusuf Habibie, ditunjuk sebagai direktur utama untuk memimpin transformasi perusahaan menuju industri galangan kapal modern.

Setahun kemudian, struktur bisnis perusahaan dibagi menjadi empat divisi:

  1. Divisi Pemeliharaan dan Perbaikan
  2. Divisi Kapal Perang
  3. Divisi Kapal Niaga
  4. Divisi Rekayasa Umum

Langkah ini memperjelas fokus produksi dan layanan PT PAL sesuai kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Pada era 1990-an, PT PAL mulai menembus pasar global. Tahun 1994, perusahaan memperoleh kontrak dari Stephenson Clarke Ltd. (Inggris) untuk memproduksi dua unit kapal kargo kering seberat 18.500 DWT.

Setahun kemudian, PAL kembali dipercaya untuk membangun empat kapal muatan curah terbuka berkapasitas 42.000 DWT pesanan Reederei F. Laeisz (Jerman) serta kapal tanker minyak 17.500 DWT dari AVL Maritime SA (Jepang).

Tahun 1995 juga menjadi tonggak penting ketika PT PAL sukses mengembangkan kapal bulk carrier berkapasitas 50.000 DWT, yang kemudian dikenal dengan nama Star 50.

Peran Strategis dalam Industri Pertahanan

Seiring meningkatnya kebutuhan pertahanan, pada tahun 2012 pemerintah menunjuk PT PAL sebagai Integrator Utama Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Matra Laut, berdasarkan UU No. 16 Tahun 2012. Penugasan ini menegaskan peran PT PAL sebagai tulang punggung kemandirian alutsista Indonesia, khususnya di sektor maritim.

Bergabung ke Holding BUMN Pertahanan

Langkah penting terbaru terjadi pada 12 Januari 2022, ketika pemerintah resmi menyerahkan mayoritas saham PT PAL kepada PT Len Industri (Persero). Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar untuk membentuk holding BUMN industri pertahanan, yang menyatukan berbagai perusahaan strategis di bawah satu kendali.

Kesimpulan

Perjalanan PT PAL Indonesia hingga saat ini telah mengalami berbagai transformasi industri maritim, dari galangan peninggalan kolonial menjadi perusahaan galangan kapal modern yang mampu memproduksi kapal perang, kapal niaga, hingga kapal khusus berteknologi tinggi.

Dengan peran strategisnya dalam mendukung pertahanan dan kemandirian bangsa di sektor kelautan, PT PAL Indonesia kini meneguhkan posisinya sebagai salah satu pilar penting industri pertahanan maritim di Asia Tenggara. (red)

Editor : Fudai