Pemkot Surabaya Perkuat Upaya Pencegahan Kebakaran, Respon 7 Menit ke Pemukiman

Ilustrasi kebakaran TP 5, Foto dokumen © ARTIK/Fudaili
Ilustrasi kebakaran TP 5, Foto dokumen © ARTIK/Fudaili

SURABAYA | ARTIK.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya terus berupaya mencegah risiko terjadinya kebakaran di pemukiman warga.

Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai cara, antara lain, siaga 24 jam, latihan penyelamatan dan pengecekan peralatan dan respon time 7 menit.

Baca Juga: Alfian Surya Dinyatakan Bersalah Melanggar UU ITE, PN Surabaya Vonis 2 Tahun Penjara

Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, Rabu (10/1) mengatakan, selama tahun 2023 tercatat 793 kasus kebakaran telah ditangani oleh DPKP Surabaya. Di antaranya, 121 kebakaran berasal dari bangunan, 18 kebakaran dari kendaraan, dan 654 kebakaran dari ruang terbuka.

Di tahun 2023, kasus kebakaran didominasi oleh ruang terbuka yang disebabkan oleh fenomena El-Nino. Karenanya, sosialisasi dan mitigasi terus dilakukan di lingkungan pemukiman, pendidikan, dan perkantoran.

“Sosialisasi dan mitigasi terus dilakukan melalui rayon dan pos. Kami juga menyediakan kunjungan bagi wisata pemadam kebakaran cilik (Wisdamcil) bagi Paud dan TK. Serta memberikan pelatihan mitigasi kepada guru Paud,” kata Laksita Rini.

Laksita Rini melanjutkan, respon time 7 menit yang diterapkan oleh DPKP Surabaya adalah untuk meminimalisir adanya korban dan kerugian akibat kebakaran.

“Kecepatan respon 7 menit itu waktu kedatangan kami di lokasi kebakaran. Jadi peran warga dalam 3 menit awal sangat diperlukan,” ujar dia.

Untuk mencapai respon time 7 menit, DPKP Surabaya telah melakukan pemetaan wilayah padat penduduk.

Pemetaan ini dilakukan untuk mengatur jarak antara lokasi kebakaran dengan jalan utama. Jika jarak rumah warga lebih dari 200 meter dengan jalan utama, maka DPKP Surabaya berencana membuat hidran kering di tahun 2024, serta menambah sumur dan pos pemadam di Kecamatan Margorejo dan Kecamatan Lontar Kota Surabaya.

Selanjutnya, DPKP Surabaya juga berpatroli untuk menemukan spot atau titik lokasi yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Baca Juga: Eri Cahyadi Blusukan Lagi ke Kawasan Pakal dan Sambikerep, Cari Solusi Taktis Jangka Panjang

“Jadi kalau jalannya sempit, kita butuh selang yang panjang, maka butuh waktu yang lama. Itu dapat menimbulkan korban jiwa sehingga kita usulkan akan membuat hidran kering. Dengan adanya hidran kering di lokasi itu maka akan memudahkan pemadaman,” terangnya.

Selain itu, DPKP Surabaya juga melibatkan Kader Madagaskar (Masyarakat dan Keluarga Siaga Kebakaran) dalam mengantisipasi dan menangani kebakaran di pemukiman. Sebab, peran warga sangat dibutuhkan dalam 3 menit pertama untuk mencegah membesarnya api jika terjadi kebakaran.

“Kader Madagaskar adalah yang paling dekat yang selama ini sudah kita lakukan pengembangan kapasitasnya,” ujarnya.

Hal ini terbukti dengan kapasitas Kader Madagaskar di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya yang berhasil terpilih menjadi salah satu pilot project dalam Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) Siaga Kebakaran Lingkungan di tingkat nasional.

“Ke depannya akan kita kembangkan lagi agar lebih profesional dan pengembangannya kepada masyarakat sekitar. Dari RW bisa ke RT hingga dasawisma, karena sasaran utama kita adalah ibu-ibu yang biasa di rumah,” jelasnya.

Baca Juga: Takziyah ke Rumah Anggota KPPS yang Meninggal, Khofifah Sebut Pejuang Demokrasi

Dalam beberapa kasus, kebakaran yang terjadi di pemukiman berasal dari kelalaian masyarakat. Seperti konsleting listrik. Sedangkan saat tahun 2023 yang diakibatkan oleh El-Nino, bencana kebakaran terjadi di ruang terbuka. Seperti terbakarnya sampah dan ilalang di ruang terbuka.

“Misal bencana kebakaran di rumah adalah kebiasaan setelah mengisi daya handphone, charger tidak dilepas saat di rumah. Lalu kipas angin yang dibiarkan menyala terus, atau gas elpiji yang tidak di cek kembali,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Laksita Rini menyampaikan kepada masyarakat lebih berhati-hati jika akan meninggalkan rumah. Karenanya, kesadaran masyarakat untuk menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) harus ditingkatkan.

“Seperti melakukan pengecekan pada kompor, elpiji, listrik, dan aspek keselamatan di rumah. Termasuk sampah, dan jangan membuang puntung rokok sembarangan,” pungkasnya.

(red)

Editor : Fudai