SURABAYA – Kepedulian terhadap anak putus sekolah kembali menjadi perhatian Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Abdul Malik. Ia bergerak setelah menerima aspirasi masyarakat melalui media sosial TikTok terkait seorang anak (Yatim) yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi dan kini tinggal seorang diri.
Abdul Malik mengaku langsung mendatangi kediaman anak tersebut beberapa jam setelah menerima informasi. Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan kondisi sekaligus mendengar langsung harapan sang anak terkait masa depannya.
“Desakan ini bermula dari aspirasi melalui media sosial TikTok. Ada warga yang menyampaikan bahwa di salah satu kampung terdapat anak yang terputus sekolah, berstatus yatim dan tinggal seorang diri,” tutur Abdul Malik pada Warta Artik.id Kamis (13/08).
Mas Malik (sapaan akrabnya) menambahkan, Dari hasil penelusuran, anak tersebut sebelumnya bersekolah di salah satu sekolah swasta hingga kelas 9. Namun, saat memasuki awal kelas 9, ia hanya sempat mengikuti kegiatan belajar sekitar dua minggu karena tidak lagi mampu membayar biaya sekolah.
Meski demikian, semangat anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan masih sangat besar. Ia menyampaikan keinginannya untuk kembali bersekolah melalui pondok pesantren agar bisa sekaligus mendalami ilmu umum dan agama.
Mas Malik menilai keinginan tersebut harus mendapat dukungan. Terlebih, selama ini kebutuhan sehari-hari anak tersebut juga sangat terbatas. Karena hidup seorang diri, ia hanya mengandalkan kepedulian tetangga sekitar untuk memenuhi kebutuhan makan.
“Dia tidak hanya menghadapi persoalan pendidikan, tetapi juga kebutuhan sehari-hari. Selama ini untuk makan saja terkadang menunggu belas kasih tetangga kanan-kiri,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, Politisi Muda PDI Perjuangan itu, langsung berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya agar dapat membantu mencarikan pondok pesantren yang sesuai dengan keinginan anak tersebut, terutama yang memiliki biaya ringan, bahkan jika memungkinkan gratis.
“Kami komunikasikan dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Insyaallah akan bersama-sama memfasilitasi untuk mencarikan pondok pesantren yang sesuai harapannya, tentu dengan biaya yang ringan. Syukur-syukur gratis,” katanya.
Mas Malik juga memberikan imbauan keras kepada Kelurahan Sidotopo Wetan dan Kecamatan Kenjeran agar tidak hanya menunggu laporan masyarakat. Ia meminta jajaran wilayah tersebut turun langsung untuk memastikan kondisi anak-anak yang berisiko putus sekolah.
Menurutnya, kasus anak yatim yang tinggal seorang diri dan terpaksa berhenti sekolah karena persoalan biaya seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah di tingkat dasar.
“Saya berharap kepada pihak kelurahan dan kecamatan agar lebih proaktif. Turun langsung melihat adik-adik yang terputus sekolah karena faktor ekonomi, terlebih karena yatim dan sudah tidak mempunyai orang tua,” tegas Abdul Malik.
Ia juga meminta Kelurahan Sidotopo Wetan dan Kecamatan Kenjeran melakukan pendataan secara aktif sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi maupun kondisi keluarga.
“Ini harus dipastikan. Jangan sampai ada anak yang sebenarnya masih mempunyai semangat belajar, tetapi karena persoalan ekonomi akhirnya tidak bisa melanjutkan sekolah,” ujarnya.
diakhir pernyataannya, Mas Malik juga berpesan kepada anak tersebut agar tetap memiliki semangat belajar apabila nantinya berhasil mendapatkan tempat di pondok pesantren. serta akan ikut memantau perkembangan pendidikan anak itu hingga menyelesaikan proses belajarnya.
“Yang penting dia mempunyai semangat tinggi, semangat belajar. Saya juga akan memonitor sampai nanti selesai proses pendidikan. Kita harus memastikan hak pendidikan anak ini terpenuhi,” tandasnya.
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya akan terus mendorong berbagai langkah untuk mewujudkan Surabaya sebagai kota layak anak. Salah satunya dengan memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk anak yatim, tidak terputus dari akses pendidikan.(rda)
Editor : rudi