SURABAYA - Wabah hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk mencegah penyebaran hantavirus varian Andes ke Indonesia.
Menurut Budi, saat ini penyebaran virus masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut. Kementerian Kesehatan juga sudah berkoordinasi dengan World Health Organization atau WHO terkait panduan penanganan dan skrining.
Ia menjelaskan, Indonesia telah memiliki sistem pemeriksaan hantavirus, termasuk kemungkinan penggunaan rapid test maupun reagen PCR seperti saat pandemi Covid-19.
Sementara itu, epidemiolog Masdalina Pane menegaskan hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia.
Dalam tiga tahun terakhir tercatat lebih dari 250 kasus suspek, namun hanya 23 kasus yang dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, tiga pasien meninggal dunia.
Kasus positif ditemukan di sejumlah daerah, di antaranya Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, NTT, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat.
WHO sebelumnya mengonfirmasi lima dari delapan kasus suspek di kapal pesiar telah dinyatakan positif hantavirus. Tiga korban meninggal berasal dari Belanda dan Jerman.
Kapal MV Hondius sendiri memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dengan sekitar 150 penumpang dan awak dari 28 negara.
Negara-negara terkait kini melakukan pelacakan terhadap para penumpang yang sempat turun di beberapa wilayah sebelum virus terdeteksi.
Di Singapura, dua warga dilaporkan menjadi suspek hantavirus setelah ikut dalam pelayaran tersebut. Keduanya masih menjalani isolasi sambil menunggu hasil laboratorium.
Masdalina Pane menjelaskan hantavirus merupakan virus zoonosis yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus. Penularan dapat terjadi melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang mencemari lingkungan.
Namun, khusus varian Andes, penularan juga bisa terjadi antarmanusia melalui kontak erat.
“Penularannya tidak semudah Covid-19 karena biasanya membutuhkan kontak langsung dalam durasi cukup lama,” ujarnya.
Ia menambahkan, jenis hantavirus di Indonesia umumnya tidak seganas varian Andes yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan dan Amerika Utara.
Meski demikian, penyakit ini tetap berbahaya karena dapat menyerang paru-paru, pembuluh darah, hingga ginjal.
Masa inkubasi hantavirus juga cukup panjang, yakni sekitar 9 hingga 40 hari, dengan rata-rata gejala muncul dalam waktu dua hingga tiga minggu.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
Sisa makanan, area yang terkena kotoran tikus, hingga kandang hewan pengerat peliharaan juga perlu dibersihkan secara rutin.
Selain itu, masyarakat diminta menjaga daya tahan tubuh dan membatasi kontak dengan orang yang baru datang dari wilayah dengan kasus hantavirus tinggi.
Pemerintah juga diminta memperkuat sistem pengawasan dan pemeriksaan laboratorium, terutama bagi pendatang dari negara yang memiliki kasus hantavirus. (red)
Editor : malik