artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Adab dan Ilmu dalam Kehumasan: Fondasi Komunikasi yang Beretika dan Bermakna

avatar Mohammad
  • URL berhasil dicopy

SURABAYA — Kehumasan saat ini tidak lagi sekadar soal menyampaikan pesan di era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses berpikir. Lalu seperti humas bagaimana posisi, peran saat ini? 

Humas kini memiliki peran agar pesan bisa disampaikan dengan kesadaran, kepekaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah adab dan ilmu menjadi dua pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kehumasan modern.

Kehumasan bukan hanya profesi teknis, melainkan praktik sosial yang sangat dipengaruhi oleh nilai. Setiap kata, gestur, hingga pilihan diam seorang praktisi humas memiliki konsekuensi terhadap persepsi publik. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi tidak cukup hanya bertumpu pada keterampilan teknis, tetapi harus dilandasi oleh adab yakni kesadaran etika dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dalam keseharian kerja, adab seringkali tampak dalam hal-hal sederhana, namun justru paling menentukan. Memberikan ruang kepada rekan untuk menjalankan tugasnya tanpa intervensi yang tidak perlu, menyampaikan permisi ketika melewati orang yang lebih senior atau sedang bekerja, serta mendengarkan dengan penuh perhatian saat orang lain berbicara. Semua itu bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk penghormatan terhadap martabat manusia dalam komunikasi.

Dalam perspektif teori, konsep ini sejalan dengan Excellence Theory yang dikembangkan oleh James E. Grunig, yang menekankan bahwa praktik humas yang unggul harus berbasis pada komunikasi dua arah yang simetris yakni komunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghargai dialog, mendengar, dan membangun hubungan yang setara. Adab menjadi fondasi penting untuk mewujudkan komunikasi yang simetris tersebut.

Selain adab, ilmu adalah fondasi kedua yang tidak kalah penting. Seorang praktisi humas dituntut untuk memahami teori komunikasi, strategi pesan, manajemen isu, hingga dinamika media digital. Namun, ilmu dalam kehumasan tidak berhenti pada penguasaan konsep, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata.

Puncak dari menuntut ilmu adalah mengamalkannya. Ilmu yang tidak diterapkan dalam tindakan ibarat pohon yang tumbuh subur namun tidak pernah berbuah. Dalam konteks kehumasan, seseorang yang memahami prinsip komunikasi yang baik tetapi tidak menerapkannya dalam interaksi sehari-hari, akan kehilangan makna dari ilmu itu sendiri.

Misalnya, seorang humas yang memahami pentingnya transparansi tetapi masih menyembunyikan informasi yang seharusnya disampaikan kepada publik. Atau contoh lainnya humas yang memahami pentingnya empati tetapi merespons kritik masyarakat dengan defensif. Maka hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ilmu dan praktik.

Konsep ini juga selaras dengan pendekatan etika dalam komunikasi yang dikemukakan oleh Cutlip, Center, dan Broom dalam Effective Public Relations, bahwa kredibilitas humas dibangun bukan hanya dari apa yang diketahui, tetapi dari apa yang dilakukan secara konsisten.

Lebih jauh, adab dalam menuntut ilmu juga menjadi kunci keberkahan dalam profesi kehumasan. Niat yang tulus, sikap rendah hati, kesungguhan dalam belajar, serta penghormatan terhadap guru, senior, dan rekan kerja akan membentuk karakter komunikasi yang matang. Dalam praktiknya, humas yang beradab tidak hanya fokus pada pencapaian target komunikasi, tetapi juga menjaga harmoni hubungan antarindividu dan institusi.

Dalam konteks pemerintahan, misalnya, seorang humas tidak hanya bertugas menyampaikan kebijakan kepada publik, tetapi juga memastikan bahwa pesan tersebut disampaikan dengan empati, tidak menyinggung kelompok tertentu, serta membuka ruang dialog yang sehat. 

Ketika menghadapi krisis komunikasi, adab menjadi penentu apakah respons yang diberikan akan meredakan situasi atau justru memperkeruh keadaan.

Pada akhirnya, kehumasan yang kuat bukan hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi dari keseimbangan antara ilmu dan adab. Ilmu memberikan arah, sementara adab memberikan makna. Ilmu akan membantu kita untuk berbicara dengan benar, sedangkan adab memastikan bahwa kita berbicara dengan bijak.

Di tengah dunia komunikasi yang semakin cepat dan kompetitif, justru yang dibutuhkan bukan hanya strategi yang canggih, tetapi karakter yang kokoh. Sebab pada akhirnya, komunikasi yang paling berpengaruh bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling tulus niatnya dan paling beradab caranya.

Editor :