SURABAYA – Suasana Reses Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya, Ajeng Wira Wati, di RW 01 kelurahan Airlangga mendadak haru ketika seorang mahasiswi menyampaikan keluh kesahnya dengan suara bergetar dan berlinang air mata. Pemotongan bantuan biaya kuliah atau UKT membuatnya terancam putus Kuliah.
Mahasiswi tersebut merupakan anak yatim. Sang ayah telah meninggal dunia, sementara ibunya tidak bekerja. Ia hanya hidup berdua dengan ibunya, karena kakaknya telah menikah. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa semester enam di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya, jurusan Teknik Sains.
Melalui jalur mandiri, ia masih memiliki tunggakan UKT sebesar Rp7 juta yang harus segera dilunasi. Di tengah keterbatasan ekonomi, uang sakunya bahkan dipangkas hingga tersisa Rp300 ribu per bulan. Kondisi itu memaksanya berpikir untuk mencari pekerjaan sambilan, bahkan mempertimbangkan menjadi ojek online demi bertahan dan tetap kuliah.
Ia mengaku sudah mengajukan keringanan biaya ke pihak kampus. Namun, rasa cemas terus menghantui karena belum ada kepastian, sementara tenggat pembayaran semakin dekat.
“Takut tidak bisa lanjut kuliah karena belum bisa melunasi UKT,” ungkapnya lirih di hadapan Ajeng.

Mendengar hal tersebut, Ajeng Wira Wati langsung menyatakan komitmennya untuk mengawal persoalan warga kurang mampu, khususnya mahasiswa dari keluarga prasejahtera.
“Saya akan kawal warga tidak mampu agar mendapatkan bantuan pendidikan semaksimal mungkin, terutama untuk penerima beasiswa Pemuda Tangguh khususnya pendaftar lama,” tutur Ajeng pada Warta Artik.id Rabu (11/02).
Ia juga meminta data lengkap mahasiswa tersebut untuk segera dilaporkan dan dilakukan survei ulang, sehingga beban UKT bisa dikurangi dan pendidikannya tetap berlanjut.
Srikandi Politisi Gerindra Surabaya itu menuturkan, pendidikan adalah hak setiap anak kandung bumi pahlawan ini dan tidak boleh terhenti hanya karena persoalan biaya. Reses, Wakil Rakyat Harus menjadi ruang nyata menghadirkan solusi, bukan sekadar menampung keluhan.
Ajeng pun memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga mahasiswi bersangkutan tetap bisa melanjutkan studinya.
“Jangan sampai ada anak Surabaya yang putus kuliah hanya karena UKT, Pemkot Surabaya Harus Hadir memberi solusi pada warganya, untuk terus mendapatkan pendidikan yang berkelanjutan,” pungkasnya (rda)
Editor : rudi