SURABAYA – Peluncuran tiga novel H.M. Samsul Arifien berlangsung di Surabaya, Minggu (5/7/2026), menjadi momentum yang menegaskan bahwa masa pensiun tidak mengakhiri produktivitas seseorang. Dalam kegiatan yang dihadiri Komunitas "Sehati" Purna Praja Dinas Perkebunan Jawa Timur itu, mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur tersebut memperkenalkan tiga karya terbaru yang lahir dari pengalaman hidup, pengabdian, serta kegemarannya menulis.
Pada acara tersebut, Samsul Arifien yang dikenal dengan julukan "Penulis Tua" meluncurkan novel Gendari Tanah Manis, buku motivasi religi Jelajah Hati, dan buku anekdot Saala dan Sailun (Santri Kembar). Peluncuran tiga buku H.M. Samsul Arifien juga dirangkai dengan sesi Bedah Imaginasi Penulis yang menghadirkan akademisi Prof. Dr. Suparto Wijoyo dari Universitas Airlangga serta Prof. Dr. Teguh Soedarto dari UPN Veteran Jawa Timur.
Baca juga: DPRD Jatim Dukung Buku Ajar Bung Karno Masuk Sekolah, sebagai Benteng Moral Generasi Z
Novel Gendari Tanah Manis mengangkat kisah mengenai kehidupan, perjuangan, cinta, keteguhan hati, dan dinamika takdir manusia. Melalui tokoh Gendari, pembaca diajak menelusuri perjalanan batin yang sarat makna sekaligus menjadi refleksi atas kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Jelajah Hati menawarkan perjalanan spiritual melalui berbagai perenungan tentang kehidupan, keimanan, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Buku tersebut disajikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami berbagai kalangan pembaca.
Adapun Saala dan Sailun (Santri Kembar) menghadirkan kisah bernuansa humor khas kehidupan pesantren. Lewat cerita dua santri kembar, buku ini menyampaikan pesan moral, pendidikan karakter, dan nilai-nilai kebijaksanaan melalui kisah ringan yang menghibur.
Dalam sesi bedah buku, Prof. Dr. Suparto Wijoyo memberikan apresiasi terhadap konsistensi Samsul Arifien yang terus menghasilkan karya meski telah memasuki masa purnatugas.
Menurutnya, usia maupun pensiun tidak menjadi penghalang untuk tetap produktif. Bahkan, Samsul dinilai menunjukkan semangat belajar sepanjang hayat setelah berhasil menyelesaikan pendidikan doktor atau program S3.
"Pak Samsul menunjukkan bahwa masa tua maupun pensiun bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru beliau menjadi pribadi yang sangat produktif. Apalagi beliau baru saja menyelesaikan program doktor. Ini menjadi teladan bahwa belajar dan berkarya dapat dilakukan sepanjang hayat," ujar Prof. Suparto.
Ia menambahkan, ketekunan menulis merupakan bentuk pengabdian yang memiliki manfaat jangka panjang karena gagasan yang dituangkan dalam buku akan terus hidup, dibaca, dan menginspirasi generasi berikutnya.
Baca juga: Jejak Bung Karno di Surabaya dalam Pameran "Aku Arek Suroboyo" Telisik Sejarah Sang Proklamator
Diskusi dalam Bedah Imaginasi Penulis juga menyoroti pentingnya menjaga budaya literasi, terutama di kalangan purnatugas. Pengalaman panjang selama masa pengabdian dinilai menjadi modal berharga yang dapat diwariskan kepada masyarakat melalui karya tulis.
Kehadiran Komunitas "Sehati" Purna Praja Dinas Perkebunan Jawa Timur turut memperkaya jalannya kegiatan. Peserta tidak hanya mengikuti peluncuran buku, tetapi juga berdiskusi mengenai proses kreatif menulis, pengalaman hidup, serta pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat.
Samsul Arifien mengatakan ketiga bukunya lahir dari perjalanan hidup, pengalaman pengabdian, serta kebiasaan membaca dan menulis yang terus dijaga setelah memasuki masa pensiun.
"Menulis bagi saya bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman yang mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi orang lain. Masa pensiun bukanlah akhir dari pengabdian, justru menjadi kesempatan untuk berbagi melalui tulisan," ujarnya.
Ia menjelaskan, masing-masing buku memiliki karakter yang berbeda. Gendari Tanah Manis menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui cerita, Jelajah Hati lahir dari refleksi spiritual agar pembaca semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan Saala dan Sailun (Santri Kembar) menyampaikan pesan moral melalui humor yang ringan.
Baca juga: Harbuknas, Eri Cahyadi Bilang Guru Bisa Menghasilkan, Jual Buku di Aplikasi
"Kalau ilmu hanya berhenti di kepala, manfaatnya terbatas. Tetapi ketika ditulis menjadi buku, ia bisa terus hidup, dibaca lintas generasi, bahkan ketika penulisnya sudah tidak ada. Itulah yang ingin saya wariskan," kata Samsul.
Peluncuran tiga buku H.M. Samsul Arifien menjadi penegas bahwa kreativitas dan semangat berkarya tidak dibatasi usia. Melalui karya sastra, motivasi religi, dan cerita humor, Samsul menunjukkan pengalaman hidup dapat diolah menjadi warisan intelektual yang terus memberi manfaat serta menginspirasi masyarakat untuk belajar dan berkarya di setiap fase kehidupan.
Editor : Fudai