Gejolak Global Uji Stabilitas Pasar Keuangan Indonesia

Reporter : Fudai
ILUSTRASI, Presiden Prabowo saat bahas kemitraan strategis dengan Imperial College London.

Sebuah Market Insight, Ahmad Fudaili

SURABAYA – Dampak geopolitik terhadap pasar keuangan Indonesia kembali menjadi perhatian investor seiring meningkatnya ketidakpastian global, perubahan harga energi, dan dinamika kebijakan ekonomi domestik.

Baca juga: Warga Amerika di Palestina Tewas Dikeroyok Pemukim Israel, Washington Tidak Peduli

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah, arus modal asing, pasar obligasi pemerintah, hingga stabilitas perekonomian nasional.

Gejolak global dapat mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Perubahan strategi investasi itu berisiko memicu tekanan jual pada aset negara berkembang, termasuk saham dan surat utang Indonesia, terutama ketika dolar Amerika Serikat menguat dan harga minyak dunia bergerak naik.

Pemerintah bersama otoritas moneter menilai stabilitas sistem keuangan nasional masih terjaga. Meski demikian, risiko dari ketegangan geopolitik, perubahan arah perdagangan global, dan volatilitas pasar internasional tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi melalui kebijakan fiskal, moneter, serta pengawasan sektor keuangan.

Dampak geopolitik terhadap pasar keuangan Indonesia umumnya terlihat dari perubahan sentimen investor global. Ketika risiko konflik meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi penempatan dana pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih stabil.

Perubahan sentimen tersebut dapat memicu arus keluar modal portofolio dari pasar saham maupun obligasi. Jika investor asing melakukan penjualan aset secara besar-besaran, harga saham dan surat utang domestik dapat tertekan, sementara nilai tukar rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS.

Tekanan pasar juga dipengaruhi perkembangan posisi Indonesia dalam indeks pasar global. MSCI pada Juni 2026 memperpanjang proses peninjauan status pasar Indonesia hingga November. Lembaga indeks tersebut meminta perbaikan dalam transparansi kepemilikan saham, tingkat saham beredar bebas atau free float, serta kualitas data perdagangan.

Ketidakpastian terkait peninjauan tersebut dinilai dapat membebani persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia. Situasi ini terjadi ketika arus dana asing di pasar saham domestik masih menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah menjadi salah satu instrumen yang paling cepat merespons perubahan sentimen global. Penguatan dolar AS dan meningkatnya kebutuhan aset likuid dapat mendorong investor mengurangi kepemilikan instrumen berbasis rupiah.

Bank Indonesia sebelumnya menyebut ketidakpastian pasar keuangan global sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Pada 18 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.880 per dolar AS atau melemah 0,56 persen dibandingkan posisi akhir Januari.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia melakukan intervensi melalui pasar non-deliverable forward atau NDF di luar negeri, transaksi spot, serta domestic non-deliverable forward atau DNDF di pasar domestik.

Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi. Stabilitas kurs dinilai penting karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri.

Baca juga: Iran Panggil Diplomat Ukraina, Klarifikasi Dukungan Kyiv atas Serangan AS-Israel ke Iran

Selain rupiah, pasar Surat Berharga Negara atau SBN juga menjadi perhatian. Investor asing masih memiliki peran dalam perdagangan obligasi pemerintah, sehingga perubahan kepemilikan dapat memengaruhi pergerakan harga dan imbal hasil SBN.

Apabila terjadi aksi jual obligasi dalam jumlah besar, yield SBN berpotensi meningkat. Kenaikan imbal hasil dapat berdampak pada biaya pembiayaan pemerintah serta biaya pendanaan bagi sektor usaha.

Seiring dengan itu, lonjakan harga energi juga menjadi salah satu jalur utama dampak geopolitik terhadap pasar keuangan Indonesia. Ketegangan di kawasan penghasil minyak dapat memengaruhi pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Kenaikan harga minyak dapat memperbesar biaya impor energi, meningkatkan tekanan inflasi, serta memengaruhi neraca transaksi berjalan. Kondisi tersebut juga berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila kebutuhan devisa untuk impor meningkat.

Lembaga Penjamin Simpanan mencatat eskalasi geopolitik di Timur Tengah pada Maret 2026 ikut memicu volatilitas pasar keuangan global. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah pasar domestik dan respons kebijakan ekonomi.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas tertentu dapat menjadi penyangga bagi Indonesia. Pendapatan ekspor dari komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan logam berpotensi mendukung penerimaan devisa, meski manfaatnya bergantung pada harga global dan volume perdagangan.

Baca juga: Citra Satelit Serangan AS di Fordow Picu Keraguan, Iran Tetap Bersikeras Lanjutkan Program Nuklir

Kebijakan Domestik Menjaga Kepercayaan Investor

Investor juga mencermati konsistensi kebijakan domestik, terutama kebijakan fiskal, pengelolaan anggaran, reformasi pasar modal, serta kredibilitas lembaga ekonomi. Kepastian kebijakan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor ketika risiko global meningkat.

Pemerintah menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik. Hingga Februari 2026, pendapatan negara tercatat Rp358 triliun atau sekitar 12,8 persen dari target APBN, sementara belanja negara diarahkan untuk menjaga aktivitas ekonomi dan stabilitas.

Koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan menjadi bagian penting dalam menjaga likuiditas pasar, mengendalikan inflasi, serta memitigasi risiko dari arus modal yang berfluktuasi.

Dengan risiko eksternal yang masih tinggi, dampak geopolitik terhadap pasar keuangan Indonesia akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik global, arah suku bunga internasional, harga energi, serta efektivitas kebijakan domestik.

Stabilitas pasar keuangan Indonesia akan bergantung pada kemampuan otoritas menjaga rupiah, mengelola arus modal, memperkuat pasar obligasi, dan mempertahankan kepercayaan investor.

Editor : Fudai

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru