Tak Hanya Menyelamatkan Nyawa, Pemulihan Tubuh Korban Bencana Harus Jadi Prioritas

Reporter : Mohammad

Oleh : dr. Fachrizal Arfani Prawiragara, Sp.OT., M.Ked.Klin

Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi di dunia. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, erupsi gunung api, hingga bencana hidrometeorologi kerap terjadi dan membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Dalam situasi darurat, fokus utama penanganan bencana umumnya tertuju pada evakuasi korban, penyelamatan jiwa, penyediaan logistik, serta pemenuhan kebutuhan dasar penyintas. Namun, di balik keberhasilan proses penyelamatan tersebut, terdapat satu aspek penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu pemulihan kondisi tubuh korban pasca bencana. Faktanya, selamat dari bencana belum tentu berarti seseorang benar-benar pulih.

Bencana sering meninggalkan dampak fisik yang tidak sederhana. Banyak penyintas mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan, terjatuh saat evakuasi, terbentur material keras, atau mengalami kecelakaan selama proses penyelamatan. Cedera seperti patah tulang, dislokasi sendi, cedera otot dan ligamen, luka jaringan lunak, hingga nyeri kronis sering kali menjadi masalah lanjutan yang baru terasa setelah fase tanggap darurat berakhir. Bahkan pada beberapa kasus, cedera ringan yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi gangguan fungsi gerak jangka panjang dan menurunkan kualitas hidup seseorang.

Dalam kondisi bencana besar seperti gempa bumi atau bangunan runtuh, risiko trauma fisik meningkat secara signifikan. Cedera akibat tertimpa benda berat dapat menyebabkan gangguan pada tulang, otot, dan jaringan penyangga tubuh. Pada korban banjir, risiko jatuh, terpeleset, atau terbawa arus juga dapat memicu trauma muskuloskeletal. Sementara pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit degeneratif sebelumnya, dampak fisik pasca bencana dapat menjadi lebih berat karena kemampuan pemulihan tubuh yang terbatas. Akibatnya, banyak penyintas mengalami kesulitan berjalan, keterbatasan mobilitas, hingga kehilangan kemampuan bekerja untuk sementara maupun permanen.

Sayangnya, perhatian terhadap pemulihan fisik sering kali kalah prioritas dibandingkan kebutuhan darurat lainnya. Setelah masa evakuasi selesai, sebagian penyintas justru kembali menghadapi tantangan baru berupa nyeri berkepanjangan, keterbatasan gerak, hingga risiko kecacatan apabila cedera tidak ditangani secara optimal. Padahal, pemulihan tubuh pasca bencana merupakan bagian penting dari upaya membangun kembali kehidupan masyarakat. Kemampuan seseorang untuk kembali bergerak, bekerja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap proses pemulihan sosial dan ekonomi keluarga.

Pemulihan fisik pasca bencana tidak hanya berarti pengobatan cedera, tetapi juga mencakup rehabilitasi medis yang komprehensif. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, fisioterapi, latihan penguatan otot, terapi nyeri, hingga tindakan medis tertentu diperlukan untuk membantu korban mendapatkan kembali fungsi tubuh secara optimal. Pada beberapa kondisi, kemajuan teknologi kesehatan juga mulai memberikan harapan baru melalui pendekatan terapi minimal invasif dan regeneratif yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan jaringan tubuh. Dengan penanganan yang tepat sejak dini, risiko kecacatan jangka panjang dapat diminimalkan sehingga penyintas memiliki kesempatan lebih besar untuk kembali hidup mandiri.

Di sisi lain, edukasi kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko cedera saat bencana terjadi. Pengetahuan sederhana seperti cara berlindung saat gempa, teknik evakuasi yang aman, penggunaan alat pelindung diri, hingga kesadaran untuk segera memeriksakan diri setelah mengalami benturan fisik dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, mitigasi bencana tidak seharusnya hanya berbicara tentang penyelamatan nyawa, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas hidup penyintas setelah bencana berlalu.

Dalam konteks global, perhatian terhadap pemulihan kesehatan penyintas pasca bencana juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being yang menekankan pentingnya memastikan kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua kelompok usia. Upaya rehabilitasi dan pemulihan fisik penyintas membantu mencegah disabilitas, meningkatkan kualitas hidup, serta mempercepat proses reintegrasi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Selain itu, pembangunan sistem kesehatan tangguh dalam menghadapi kondisi darurat juga berkaitan erat dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities, terutama dalam membangun komunitas yang lebih siap, aman, dan resilien terhadap bencana.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari jumlah korban yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari seberapa baik penyintas mampu kembali menjalani hidupnya setelah masa krisis berakhir. Karena itu, selamat dari bencana hanyalah langkah awal pemulihan tubuh adalah perjalanan penting berikutnya. Sudah saatnya perhatian terhadap kesehatan fisik penyintas menjadi bagian utama dalam sistem kebencanaan Indonesia, agar masyarakat tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga kembali hidup dengan sehat, produktif, dan bermartabat.

Editor : Mohammad

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru