SURABAYA - Masyarakat diminta tetap tenang menyikapi isu kemunculan hantavirus yang kembali ramai diperbincangkan. Kunci utama pencegahan bukan kepanikan, melainkan menjaga kebersihan lingkungan, terutama di dalam rumah dan area kerja.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Benjamin Kristianto, menegaskan bahwa penyebaran hantavirus sangat erat kaitannya dengan sanitasi yang buruk. Virus ini berasal dari tikus, sehingga kebersihan menjadi faktor paling menentukan untuk mencegah penularan.
Baca juga: Ketua UMUM RRI Minta Raperda Olahraga Jatim Lebih Berpihak kepada Atlet
Ia menjelaskan, berbeda dengan COVID-19 yang menular melalui udara, hantavirus memiliki perantara utama hewan pengerat. Namun, dampaknya dapat menyerang organ vital yang sama, seperti paru-paru dan ginjal.
Penularan terjadi ketika manusia bersentuhan dengan air liur, urine, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Risiko juga muncul saat menghirup debu atau partikel yang sudah terkontaminasi, atau mengonsumsi makanan yang terpapar tikus.
Kelompok usaha makanan dan minuman disebut memiliki risiko lebih tinggi. Oleh karena itu, kebersihan dapur, tempat penyimpanan bahan makanan, hingga proses pengolahan harus menjadi perhatian serius.
Infeksi juga bisa terjadi melalui gigitan tikus, atau ketika seseorang menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan setelah kontak dengan benda yang terkontaminasi.
Baca juga: DPRD Surabaya Dorong Pola Hidup Bersih, Cegah Hantavirus Tanpa Kepanikan
Pada tahap awal, gejala yang muncul umumnya tidak spesifik, seperti demam, meriang, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, hingga kelelahan. Kondisi ini kerap disertai gangguan pencernaan seperti diare.
Jika tidak ditangani, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat dalam beberapa minggu. Penderita bisa mengalami batuk, sesak napas, nyeri dada, hingga detak jantung yang meningkat.
Pada kondisi serius, cairan dapat menumpuk di paru-paru (edema paru) yang berpotensi memicu syok dan berujung fatal.
Baca juga: Pansus BUMD DPRD Jatim Desak Pemprov Benahi Tata Kelola Perusahaan Daerah
Karena itu, Benjamin yang juga pemilik rumah sakit di Sidoarjo menekankan pentingnya gerakan hidup bersih. Mulai dari rumah, lingkungan kerja, hingga kebiasaan pribadi harus lebih diperhatikan.
Ia mendorong masyarakat untuk rutin melakukan kerja bakti di lingkungan permukiman, menjaga kebersihan tempat tinggal, serta memastikan standar higienitas di tempat kerja tetap terjaga. (red)
Editor : Fudai