Visiting Lecturer Universitas Brawijaya Soroti Tantangan Regenerasi Petani dan Smart Farming

Reporter : Fudai
Foto Istimewa

MALANG - Universitas Brawijaya melalui Fakultas Pertanian menggelar Visiting Lecturer Program bertema, Agricultural Sociology dengan subtema, Social Change and its Impact in Agriculture. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan membahas dampak perubahan sosial terhadap sektor pertanian modern.

Program yang digelar oleh Laboratorium Sosiologi Pedesaan dan Pemberdayaan Masyarakat itu menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat wawasan mahasiswa mengenai pembangunan pertanian berkelanjutan di era digital.

Ketua Program Magister Sosiologi Fakultas Pertanian UB, Asihing Kustanti mengatakan perkembangan teknologi global dan perubahan sosial telah membawa dampak besar terhadap sektor pertanian.

Menurutnya, dunia akademik memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di tengah transformasi pertanian modern.

“Melalui kegiatan Visiting Lecturer Program ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan akademik yang lebih luas, tetapi juga mampu memahami tantangan dan peluang pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan, inklusif, serta berbasis kolaborasi internasional di era digital saat ini,” ujar Prof. Asihing Kustanti dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Sementara itu, narasumber dari Universiti Putra Malaysia, Norsida Man menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi perubahan sosial yang sangat dinamis.

Ia menyebut kemajuan teknologi, urbanisasi, globalisasi, perubahan perilaku konsumen, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah perkembangan pertanian modern.

“Dalam pembahasan ini, kami telah mengeksplorasi hubungan yang kompleks antara perubahan sosial dan sektor pertanian. Berbagai faktor sosial seperti kemajuan teknologi, urbanisasi, globalisasi, serta perubahan perilaku konsumen terbukti memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan pertanian,” jelasnya.

Prof. Norsida menambahkan, sektor pertanian harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar dapat menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pedesaan.

“Pertanian harus terus beradaptasi untuk menjaga ketahanan pangan, mendukung keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pedesaan, sekaligus melindungi lingkungan. Pertanian yang berkelanjutan secara ekonomi menjadi sangat penting,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, ia juga menyoroti dampak urbanisasi yang menyebabkan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Selain itu, alih fungsi lahan pertanian dan tantangan regenerasi petani muda dinilai menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang besar dalam modernisasi pertanian.

Penerapan smart farming, artificial intelligence (AI), drone, Internet of Things (IoT), sensor digital, hingga sistem pertanian presisi disebut mampu meningkatkan produktivitas serta efisiensi penggunaan sumber daya pertanian.

Meski demikian, kesenjangan akses teknologi masih menjadi tantangan utama, terutama bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses digital.

Karena itu, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah, investasi, pendidikan pertanian, serta kolaborasi lintas sektor agar transformasi pertanian dapat berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Isu ketahanan pangan global juga menjadi perhatian dalam forum tersebut. Perubahan iklim, konflik geopolitik dunia, hingga gangguan rantai pasok pangan dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional.

Pada akhir sesi, Prof. Norsida menegaskan masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga komitmen masyarakat dan pemerintah dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian.

“Pada akhirnya, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh keputusan dan komitmen masyarakat dalam mendukung serta mengembangkan sektor ini. Diperlukan upaya berkelanjutan untuk menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang demi terciptanya sistem pangan yang adil, tangguh, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat,” tutupnya.

Kegiatan Visiting Lecturer Program ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi akademik internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan dan peluang pembangunan pertanian berkelanjutan di era perubahan sosial dan digitalisasi global. (red)

 

Editor : Fudai

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru