PCNU Surabaya Teguhkan Jejak Sejarah Lewat Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026

Reporter : rudi

SURABAYA – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya mengambil peran penting dalam pelaksanaan Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama Tahun 2026, sebuah perjalanan spiritual dan historis yang menapak jejak perjuangan para muassis NU dari Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan hingga Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut 1 Abad Nahdlatul Ulama versi Masehi (1926–2026), sebagai ikhtiar kolektif warga Nahdliyin untuk merawat ingatan sejarah, meneguhkan sanad keilmuan, serta menghidupkan kembali nilai keikhlasan, khidmah, dan komitmen kebangsaan yang diwariskan para pendiri NU.

Rangkaian napak tilas dimulai pada Sabtu malam, 3 Januari 2026, dengan proses check-in peserta di Bangkalan. Keesokan harinya, Ahad, 4 Januari 2026, kegiatan diawali dengan tawajjuh dan shalat Subuh berjamaah, dilanjutkan seremonial pelepasan di Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan. Momentum sakral ini ditandai dengan penyerahan tongkat dan tasbih dari KH. Fachruddin kepada KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, sebagai simbol isyaroh restu pendirian Nahdlatul Ulama.

Dari Bangkalan, rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pelabuhan Kamal, menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, lalu melaksanakan ziarah dan tahlil di Kompleks Makam Sunan Ampel, salah satu pusat dakwah Islam Nusantara yang menjadi simpul penting sejarah ulama.

Memasuki Kota Surabaya, peserta napak tilas singgah di Kantor PCNU Surabaya, yang secara historis dikenal sebagai kantor lama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Persinggahan ini menjadi titik refleksi penting, mengingat dari tempat inilah dahulu berbagai keputusan strategis dan arah gerak dakwah NU dirumuskan.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut hadir dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026. 

Kehadiran Gubernur Jatim menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian sejarah, nilai keulamaan, serta peran NU dalam menjaga harmoni sosial dan keutuhan bangsa.

 

Ketua PCNU Surabaya, H. Ir. Masduki Toha, menegaskan bahwa Napak Tilas Isyaroh NU memiliki makna strategis bagi keberlanjutan perjuangan jam’iyyah.

“Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani dan ideologis. Dari Bangkalan, Surabaya, hingga Tebuireng, kita diajak memahami bahwa NU lahir dari adab, restu ulama, dan pengorbanan besar,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, persinggahan di Kantor PCNU Surabaya yang juga merupakan kantor lama PBNU menjadi pengingat penting bagi warga NU lintas generasi.

“Tempat ini menjadi saksi sejarah bagaimana NU dibangun dari kesederhanaan, keikhlasan, dan kerja-kerja organisatoris yang penuh pengabdian. Generasi NU hari ini wajib melanjutkan khidmah tersebut dengan tetap berpegang pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dan komitmen kebangsaan,” tambahnya.

 

Usai dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Gubeng untuk bertolak ke Jombang menggunakan kereta api. Setibanya di Jombang, peserta kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

 

Puncak Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026 berlangsung di Asta Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng, ditandai dengan seremonial penyambutan dan penyerahan tongkat serta tasbih dari KHR. Ach. Azaim Ibrahimy kepada KH. Fahmy Amrullah, yang kemudian ditutup dengan tahlil dan doa bersama.

 

PCNU Surabaya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia nasional, panitia lokal Bangkalan–Surabaya–Jombang, Banser, relawan, aparat keamanan, hingga seluruh warga Nahdliyin yang turut mengawal kegiatan ini sehingga berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan. (rda)

Editor : rudi

Peristiwa
10 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru