Jakarta – Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dinilai belum tentu mampu mengangkat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Tekanan ekonomi global dan persoalan domestik membuat siapapun yang menjabat sebagai Gubernur BI akan menghadapi tantangan besar menjaga stabilitas mata uang nasional.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi kebijakan moneter bank sentral, tetapi juga kondisi geopolitik dunia yang masih bergejolak serta tekanan ekonomi di dalam negeri.
Menurutnya, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina terus memicu ketidakpastian pasar keuangan global. Dampaknya turut dirasakan oleh nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan.
Ibrahim menilai situasi tersebut membuat ruang gerak gubernur BI yang baru menjadi lebih terbatas. Meski kebijakan moneter tetap penting, faktor eksternal dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan kurs rupiah.
Selain gejolak global, tantangan fiskal dan kondisi ekonomi domestik juga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga.
Dengan berbagai tekanan tersebut, penguatan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi jalan yang tidak mudah, meski nantinya Bank Indonesia dipimpin oleh sosok baru.
Editor : Mohammad