JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini mengalami tekanan akibat meningkatnya sentimen global. Meski keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan sempat memicu optimisme investor, memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat pasar berbalik melemah.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa keputusan BI menahan suku bunga pada awal pekan memberikan sinyal positif karena menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut sempat mendorong IHSG bergerak menguat dari Senin hingga Rabu.
Namun, suasana pasar berubah setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Konflik AS-Iran mendorong lonjakan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global dan potensi pengetatan kebijakan suku bunga di berbagai negara.
Menurut Hari, kenaikan harga minyak menciptakan efek berantai yang meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Akibatnya, investor mulai mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk saham, dan memilih menunggu perkembangan situasi global.
Ia menilai pergerakan IHSG saat ini masih sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik, terutama yang berkaitan dengan pasokan energi dunia. Selama konflik dan ketidakpastian tersebut belum mereda, volatilitas pasar saham diperkirakan tetap tinggi.
Menjelang akhir pekan, aksi jual investor semakin mendominasi perdagangan sebagai bentuk antisipasi terhadap perkembangan konflik yang diperkirakan masih akan memengaruhi sentimen pasar pada pekan depan.
Editor : Mohammad