SURABAYA – Isu merebaknya penyakit yang dikenal dengan sebutan superflu belakangan ini mendapat perhatian serius berbagai pihak. Namun masyarakat diminta untuk tetap waspada tanpa perlu panik, menyikapi informasi yang berkembang secara bijak dan rasional.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, menjelaskan bahwa superflu sejatinya bukanlah penyakit baru. Istilah tersebut merujuk pada influenza A subtipe tertentu yang memiliki tingkat penularan cukup cepat, tetapi tidak bersifat mematikan seperti wabah besar di masa lalu.
“Superflu itu pada dasarnya tetap influenza. Gejalanya hampir sama dengan flu biasa, seperti batuk, pilek, dan demam. Yang perlu diwaspadai adalah penyebarannya yang cepat, terutama pada kelompok dengan daya tahan tubuh rendah,” tutur dr.zuhro pada Warta Artik.id Senin (06/01/26).
Ia menambahkan, kelompok yang paling rentan terdampak adalah lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit penyerta (komorbid) yang dapat menurunkan imunitas tubuh.
“Orang dengan diabetes melitus, HIV, TBC, maupun penyakit lain yang menurunkan sistem imun memang lebih berisiko. Karena itu mereka harus lebih disiplin dalam menjaga kesehatan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah,” jelasnya.
Meski demikian, dr. Zuhro menghimbau masyarakat tidak perlu panik. ketenangan mental justru berperan besar dalam menjaga imunitas tubuh.
“Ketenangan itu hampir 50 persen dari pengobatan. Kalau kita panik dan menganggap semuanya berbahaya, tubuh akan merespons dengan hormon stres yang justru menurunkan daya tahan,” imbuhnya.
Pasca liburan, mobilitas masyarakat yang tinggi dinilai turut meningkatkan potensi penularan penyakit infeksi, termasuk influenza. Kelelahan, pola makan tidak seimbang, serta kurang istirahat menjadi faktor pemicu menurunnya daya tahan tubuh.
Untuk itu, ia mengimbau warga Surabaya agar konsisten menerapkan langkah pencegahan, seperti memakai masker di kerumunan atau saat mengalami gejala flu, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
“Kurangi gorengan, perbanyak makanan yang direbus atau diolah sederhana. Pastikan ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah karena vitamin serta mineral sangat penting untuk membentuk imunitas,” ujarnya.
Terkait peran pemerintah, dr. Zuhrotul menyebut Dinas Kesehatan Kota Surabaya telah melakukan langkah antisipasi melalui sistem screening, baik bagi pasien BPJS maupun pasien umum. Ia juga mendorong masyarakat untuk melakukan screening mandiri dan segera memeriksakan diri ke puskesmas jika mengalami gejala.
“Dinkes sudah melakukan upaya pencegahan. Tapi ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus proaktif, mau mengubah pola perilaku hidup sehat,” tegasnya.
Srikandi Politisi PAN Surabaya itu menambahkan,informasi terkait pencegahan penyakit sudah banyak beredar di tengah masyarakat. Tantangannya kini adalah kesadaran untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Dimulai dari diri sendiri, untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita,” pungkas dr. Zuhrotul Mar’ah.
Editor : rudi