Hadapi Tantangan Era Digital, BRI Perkuat Kapabilitas Humas Regional di Surabaya

Reporter : rudi
Suasana program Pendidikan Akselerasi Kapabilitas Kehumasan BRI di Surabaya.(doc.rzl)

SURABAYA — Kecepatan arus informasi di era digital menuntut perusahaan semakin sigap dalam menjaga reputasi dan kepercayaan publik. Menyikapi tantangan tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memperkuat kemampuan komunikasi strategis insan kehumasan melalui program Pendidikan Akselerasi Kapabilitas Kehumasan di Surabaya.

Kegiatan yang diselenggarakan BRI Corporate University pada 27 Oktober 2026 itu berlangsung di Kantor BRI Region 12 Surabaya. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi kehumasan regional, khususnya dalam membangun komunikasi yang efektif, mengelola hubungan dengan media, serta mengantisipasi risiko reputasi di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Corporate Secretary BRI, Dhanny, yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya peran humas dalam membangun citra positif sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat. Menurutnya, fungsi kehumasan saat ini tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu membaca dinamika isu, memahami persepsi publik, dan merespons perkembangan informasi secara tepat.

“Peran kehumasan di tingkat regional saat ini bukan lagi sekadar fungsi administratif publikasi, melainkan garda terdepan dalam menjaga reputasi dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan. Dinamika informasi di daerah berkembang sangat cepat; satu isu lokal dapat dengan mudah tereskalasi menjadi perbincangan nasional dalam hitungan menit,” tutur Dhanny.

Ia menjelaskan, kemampuan mengelola komunikasi secara profesional menjadi kebutuhan penting bagi BRI yang telah melayani masyarakat Indonesia selama 131 tahun. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, hubungan yang baik dengan media dan para pemangku kepentingan dinilai berperan penting dalam menjaga kredibilitas perusahaan.

Masyarakat kini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menyebarkan dan membentuk opini melalui berbagai platform digital. Kondisi ini menuntut insan kehumasan untuk lebih cermat dalam menyusun pesan, memantau percakapan publik, serta mengambil langkah antisipatif ketika muncul isu yang berpotensi memengaruhi reputasi perusahaan.

“Melalui Pendidikan Akselerasi Kapabilitas Kehumasan ini, kita menyelaraskan pemahaman dan mengasah kompetensi praktis rekan-rekan sekalian. Sepanjang hari ini, kita akan mendalami pilar-pilar utama: mulai dari kepemimpinan komunikasi, pengelolaan media sosial dan sentimen digital, respons krisis yang terintegrasi, hingga pemahaman atas ekosistem media baru berteknologi AI,” terangnya.

Penguatan kompetensi tersebut juga selaras dengan transformasi merek BRI yang diumumkan pada Desember 2025 melalui positioning “Satu Bank untuk Semua”. Melalui pendekatan ini, BRI menegaskan upayanya untuk menghadirkan layanan yang relevan bagi berbagai segmen masyarakat sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Dalam sesi pembelajaran, Neneng Herbawati mengupas keterkaitan antara gaya komunikasi kepemimpinan regional dan reputasi institusi. Ia menyoroti pentingnya integritas, keterbukaan, serta konsistensi pesan perusahaan dalam membangun kredibilitas dan memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan.

Sementara itu, Arief Sitohang memaparkan strategi membaca dan mengelola percakapan publik di ruang digital. Pembahasan mencakup pemetaan sentimen masyarakat ke dalam kategori positif, netral, dan negatif sebagai dasar untuk memahami respons publik terhadap perusahaan.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan perangkat pemantauan digital (digital monitoring tools) untuk mendeteksi potensi persoalan reputasi sejak dini. Melalui pemantauan tersebut, insan kehumasan diharapkan mampu menentukan ambang batas risiko (risk threshold) dan menyusun langkah penanganan secara cepat, terukur, serta sesuai dengan perkembangan situasi.

Melalui program ini, BRI mendorong insan kehumasan regional untuk semakin tanggap menghadapi perubahan lanskap komunikasi. Kemampuan membangun narasi yang konsisten, menjalin hubungan konstruktif dengan media, serta mengantisipasi perkembangan isu diharapkan menjadi modal penting dalam menjaga reputasi dan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap BRI.(rda)

Editor : rudi

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru