Dari Korban PHK Jadi Pengusaha Sukses, Sepatu Three Stars Pasuruan Bertahan Hampir 30 Tahun

Reporter : fuday
FOTO Diskominfo Jatim

Pengrajin sepatu lokal Pasuruan, Tri Mulyo, sukses mempertahankan usaha Three Stars selama hampir 30 tahun. Berawal dari korban PHK, kini produknya menjadi favorit masyarakat dan memberdayakan warga sekitar.

PASURUAN – Di tengah gempuran produk sepatu dan sandal bermerek yang membanjiri pusat perbelanjaan modern dan toko ritel ternama, usaha sepatu lokal asal Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, tetap mampu bertahan dan berkembang selama hampir tiga dekade. Produk sepatu dan sandal bermerek Three Stars yang diproduksi oleh Tri Mulyo kini menjadi pilihan masyarakat dari berbagai kalangan usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Kesuksesan usaha tersebut tidak diraih secara instan. Tri Mulyo memulai bisnisnya pada 1996 setelah dirinya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kebakaran yang melanda pabrik sol sepatu tempatnya bekerja. Peristiwa itu memaksanya mencari sumber penghasilan baru untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam keterangan tertulis Pemerintah Kabupaten Pasuruan yang diterima Jumat (19/6/2026), Tri mengisahkan bahwa kebakaran pabrik menyebabkan banyak karyawan dirumahkan, termasuk dirinya. Situasi tersebut sempat membuatnya kebingungan menentukan langkah selanjutnya.

“Tahun 1996 pabrik kebakaran sehingga banyak karyawan yang dirumahkan termasuk saya. Bingung sekali waktu itu karena saya mikir kerja apa nanti. Tapi tiba-tiba saya ingin membeli sol-sol yang sudah reject (rusak), dan ternyata diperbolehkan oleh perusahaan,” ujar Tri.

Sol-sol sepatu yang dibelinya kemudian dijual ke salah satu pabrik di Mojokerto dengan sistem barter. Harapannya, ia memperoleh sepatu siap jual untuk dijadikan modal usaha. Namun, sepatu yang diterimanya juga dalam kondisi cacat produksi sehingga tidak layak dipasarkan.

Kondisi tersebut justru menjadi titik balik bagi Tri untuk memulai usaha sendiri. Berbekal pengalaman membuat sol sepatu, ia memberanikan diri mencari tukang jahit sepatu dan mengajukan pinjaman bank sebesar Rp10 juta sebagai modal awal produksi.

“Dengan modal kemampuan saya membuat sol, akhirnya saya mencari tukang jahit sepatu ditambah minjem uang di bank Rp10 juta, saya nekat buat sepatu,” katanya.

Keputusan tersebut terbukti membuahkan hasil. Hingga kini, Three Stars memproduksi berbagai jenis sepatu dan sandal sesuai kebutuhan pasar. Produk yang ditawarkan meliputi sepatu kantor, sepatu sekolah, safety shoes untuk pekerja pabrik, sepatu olahraga, sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH), sepatu marching band, hingga sepatu fashion.

Variasi produk yang lengkap menjadi salah satu alasan mengapa merek lokal ini mampu bersaing dengan produk-produk terkenal. Selain itu, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau sehingga menjangkau berbagai segmen masyarakat.

Untuk kategori safety shoes, harga dibanderol mulai Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per pasang. Sepatu kantor dijual antara Rp80 ribu hingga Rp120 ribu, sedangkan sepatu olahraga berkisar Rp80 ribu sampai Rp150 ribu.

Sementara itu, sepatu sekolah dipasarkan dengan harga mulai Rp60 ribu hingga Rp150 ribu. Untuk sepatu PDH, konsumen dapat membelinya dengan harga Rp120 ribu hingga Rp200 ribu. Adapun sepatu fashion dijual mulai Rp75 ribu hingga Rp500 ribu tergantung model dan bahan yang digunakan.

Dalam sehari, usaha milik Tri mampu memproduksi sekitar 30 hingga 40 pasang sepatu. Produksi tersebut dilakukan bersama para pekerja lokal yang turut diberdayakan melalui keberadaan industri rumahan tersebut.

Tak hanya fokus pada keuntungan, Tri juga dikenal memiliki komitmen kuat terhadap kesejahteraan karyawannya. Bahkan saat pandemi Covid-19 maupun ketika pesanan menurun, ia tetap mempertahankan tenaga kerja dan tidak meliburkan para pekerjanya.

Langkah tersebut memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Keberadaan usaha Three Stars tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga menjadi contoh bagaimana industri kecil dan menengah mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Meski usahanya telah berkembang, Tri mengaku tetap membuka diri terhadap berbagai pesanan dari masyarakat. Bahkan, ia tidak membatasi jumlah minimal pemesanan dan siap melayani konsumen yang hanya membutuhkan satu pasang sepatu.

Komitmen menjaga kualitas produk, harga yang kompetitif, serta konsistensi dalam memberdayakan masyarakat menjadi kunci keberhasilan usaha sepatu lokal asal Pasuruan ini bertahan hampir 30 tahun dan terus diminati pasar hingga sekarang. (red)

 

Editor : fuday

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru