SURABAYA – Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) menggelar seminar nasional bertema genomik sebagai upaya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan penyakit berbasis genetik, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan bertajuk “The Role of Healthcare Professionals in Genomic Era Towards Genetic Diseases Management” ini berlangsung secara luring di Bangsal Poncowaliko Lantai 8, Green Tower II UWKS.
Seminar diikuti oleh tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran, hingga praktisi medis yang memiliki perhatian terhadap perkembangan genetika klinis.
Seminar ini menjadi momentum penting dalam merespons transformasi layanan kesehatan menuju era genomik. Dalam praktik kedokteran modern, pendekatan diagnosis dan terapi kini tidak lagi hanya berbasis gejala, tetapi juga mengedepankan aspek genetik dan molekuler pasien.
Ketua Panitia, dr. Eva Diah Setijowati, M.Si.Med., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi tenaga kesehatan terkait peran genetika dalam diagnosis, pencegahan, serta tata laksana penyakit.
“Seminar ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi klinisi dalam menghadapi kompleksitas penyakit genetik di Indonesia,” ujarnya, Sabtu(11/6/2026).
Dekan FK UWKS, Dr. dr. Harry Gondo, Sp.OG, menegaskan bahwa seminar ini memiliki nilai strategis dalam pengembangan pendidikan kedokteran berbasis kemajuan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, era genomik menuntut tenaga kesehatan tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga mampu memahami pendekatan precision medicine berbasis genetika.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Dies Natalis ke-40 FK UWKS. Momentum tersebut diharapkan menjadi titik refleksi sekaligus akselerasi dalam mencetak dokter yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.
Dukungan serupa disampaikan Wakil Rektor II UWKS, Dr. Kristiaingsih, SE., MM. Ia menilai kolaborasi dengan FK UNDIP merupakan langkah konkret dalam meningkatkan mutu pendidikan kedokteran sekaligus memperkuat kompetensi tenaga kesehatan.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan ilmiah, tetapi bagian dari upaya strategis meningkatkan kualitas SDM kesehatan,” ungkapnya.
Dalam sesi ilmiah, para narasumber menyoroti pentingnya integrasi genomik dalam praktik kedokteran modern. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan diagnosis lebih akurat, terapi yang bersifat personal, serta pencegahan penyakit berbasis risiko genetik individu.
Berbagai topik krusial turut dibahas, mulai dari kelainan kromosom, infertilitas, genetika kardiovaskular, hingga dismorfologi klinis. Prof. Dr. dr. Tri Indah Winarni, M.Si.Med., PAK(K), mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen kasus keguguran berulang disebabkan oleh abnormalitas kromosom, terutama pada trimester pertama kehamilan.
Sementara itu, dr. Nani Maharani, M.Si.Med., Ph.D., menekankan pentingnya deteksi dini kelainan kromosom dalam penanganan kasus reproduksi. Adapun Dr. dr. Nydia Rena Benita Sihombing, M.Si.Med., menyoroti peran dismorfologi sebagai pintu awal diagnosis penyakit genetik di layanan kesehatan primer.
Materi lain juga mencakup genetika muskuloskeletal, ambiguous genitalia, hingga pentingnya konseling genetik sebagai bagian dari pendekatan multidisiplin dalam praktik klinis.
Selain memperkaya wawasan ilmiah, kegiatan ini juga memberikan Satuan Kredit Profesi (SKP) bagi peserta sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan, mencerminkan bahwa genomik dan genetika klinis menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia medis saat ini.
Melalui seminar ini, FK UWKS berharap dapat terus berperan sebagai pusat pengembangan ilmu kedokteran yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan berbasis genetika di Indonesia.
Editor : Mohammad