SURABAYA – Virus Nipah yang belakangan menjadi perhatian dunia karena tingkat kematiannya yang tinggi, hingga kini belum terdeteksi masuk Surabaya maupun Indonesia. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dikedepankan sebagai langkah pencegahan dini.
Baca juga: Antisipasi Wabah Nipah, Gerindra Surabaya Jemput Bola Layani Kesehatan Warga Gratis
Hal itu disampaikan Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dr. Zuhrotul Mar’ah, yang menganjurkan, status Indonesia saat ini masih aman, namun masyarakat tidak boleh lengah.
“Per tanggal 3 Februari ini belum ada kasus di Surabaya, bahkan di Indonesia pun belum masuk. Tapi ini harus jadi warning bagi kita semua. Pencegahan tetap yang utama,” tuturnya pada Warta Artik.id Selasa (03/02).
Menurutnya, gejala infeksi Virus Nipah sekilas mirip penyakit virus pada umumnya. Pasien biasanya mengalami demam tinggi secara mendadak, sakit kepala, nyeri otot, muntah, sakit tenggorokan, hingga gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas.
“Demamnya bisa langsung tinggi, bahkan lebih dari 40 derajat. Lalu muncul gangguan pernapasan dan radang paru-paru, mirip infeksi saluran pernapasan,” jelasnya.
Namun pada kondisi berat, virus ini bisa memicu peradangan otak (ensefalitis) yang berbahaya. Dampaknya tidak main-main, mulai dari kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu singkat.
“Kalau sudah sampai ensefalitis, itu bisa menyebabkan kematian. Tapi semuanya tergantung daya tahan tubuh masing-masing,” tegasnya.
Dr. Zuhrotul menambahkan, orang dengan imunitas lemah atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi lebih rentan mengalami gejala berat.
Berbeda dengan Covid-19 yang menyebar lewat udara, Virus Nipah termasuk zoonosis, yakni menular dari hewan ke manusia. Penularannya diduga kuat berasal dari kelelawar buah dan babi, serta makanan yang terkontaminasi.
“Buah yang sudah digigit kelelawar sebaiknya jangan dimakan. Termasuk nira atau hasil pangan yang terbuka dan berpotensi tercemar,” katanya.
Baca juga: Agus Mashuri: Haul Akbar Pangeran Benowo Ke-418 Bersama Gus Iqdam, Spirit Kebersamaan Perekat Umat
Srikandi Politisi PAN Surabaya itu mengedukasi, Penularan antarmanusia juga bisa terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh, seperti darah, air liur, urin, atau cairan pernapasan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, memasak makanan hingga matang, menghindari kontak dengan hewan sakit, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) di fasilitas kesehatan.
“Insya Allah Sejauh ini Surabaya aman. Tapi jangan sampai lengah. Kuncinya tetap jaga kebersihan dan daya tahan tubuh,” pungkasnya. (rda)
Editor : rudi