BANGKALAN – Temuan sumur air yang diduga mengandung campuran minyak bumi di Dusun Duko, Desa Penyaksagan, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, Madura, memicu perhatian serius dari berbagai pihak. M
enanggapi hal ini, Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Abdul Halim, memberikan apresiasi atas respons cepat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim serta SKK Migas Jabanusa.
Baca juga: Normalisasi Sungai Kalianak Menuai Polemik, DPRD Jatim Desak BBWS Brantas Hentikan Sementara Proyek
Abdul Halim menilai langkah ESDM Jatim dan SKK Migas yang langsung terjun ke lokasi untuk mengambil sampel adalah tindakan strategis. Menurutnya, fenomena ini harus dikaji secara ilmiah untuk memberikan kepastian hukum dan keamanan bagi warga.
"Kami mengapresiasi langkah ESDM Jatim dan SKK Migas Jabanusa yang langsung ke lokasi untuk meneliti sampel. Imbauan kepada masyarakat agar tidak mendekat dan menggunakan air tersebut adalah langkah preventif yang sangat baik," ujar Halim, Selasa (21/1/2026).
Politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini menambahkan bahwa secara geografis, Desa Penyaksagan memang berdekatan dengan wilayah eksploitasi migas West Madura Offshore (WMO).
Hal ini memperkuat kemungkinan adanya kandungan hidrokarbon di area tersebut. Namun, ia menegaskan pentingnya menunggu hasil uji laboratorium resmi.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Jatim, Aris Mukiyono, menjelaskan bahwa sumur tersebut awalnya dibor oleh warga bernama Aida untuk mencari air bersih. Proses pengeboran dilakukan sejak 27 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026 dengan kedalaman mencapai 105 meter.
Baca juga: Hari Literasi Internasional Lilik Hendarwati Jangongan Bareng RLD, Soroti Kerusuhan Surabaya
"Masalah muncul saat pompa mulai dioperasikan pada 8 Januari 2026. Air yang keluar ternyata bercampur dengan cairan yang secara visual menyerupai minyak bumi," jelas Aris saat meninjau lokasi bersama PHE WMO dan aparat Kabupaten Bangkalan.
Hingga saat ini, pihak Pertamina Hulu Energi (PHE) WMO telah mengambil tiga botol sampel air pada kedalaman 8 meter dan 16 meter untuk diuji di laboratorium. Hasil pengujian ini nantinya akan diumumkan oleh SKK Migas Jabanusa.
Demi keselamatan, pemerintah daerah melalui Kecamatan Klampis telah menetapkan langkah-langkah antisipatif, yakni warga dilarang melakukan kegiatan yang memicu kebakaran di sekitar sumur.
Selain itu Cairan yang keluar dilarang dikonsumsi, diambil atau digunakan untuk keperluan apa pun. Menurutnya lokasi sumur telah ditutup sementara dari akses publik yang tidak berkepentingan.
Abdul Halim mengimbau masyarakat Bangkalan untuk tetap tenang dan bersabar menunggu hasil resmi.
"Keselamatan warga adalah prioritas utama. Transparansi hasil uji sangat penting agar masyarakat mendapat kepastian dan pemerintah bisa menentukan langkah teknis selanjutnya," pungkas tokoh asli Bangkalan tersebut. (red)
Editor : Fudai