artik.id skyscraper
artik.id skyscraper

Tanam 200 Pohon Bodhi, Lepas 50 Burung dan Donor Darah, maknai 50 Tahun Vihara Empu Astapaka

avatar Lani
  • URL berhasil dicopy

Jembrana – Perayaan setengah abad berdirinya Vihara Empu Astapaka di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial keagamaan. Momentum bersejarah tersebut dimaknai melalui berbagai aksi nyata yang menyentuh aspek lingkungan, kemanusiaan, dan kerukunan antarumat beragama.

Kegiatan ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka Tahun Kencana Sangha Theravada Indonesia dan 50 Tahun Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi). 

Sabtu, 6 Juni 2026 bertempat Kebun Raya Jagatnatha dilakukan penanaman 200 pohon Bodhi, pelepasan 50 burung perkutut dan donor darah, hingga persembahan dana makan para bhikkhu seusai pindapata.

Penyerahan Simbolis 200 pohon Bodhi kepada Pemerintah Kabupaten Jembrana dilakukan oleh Ketua Vihara Empu Astapaka, Liem Kok Hin dan diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Jembrana, I Ketut Armita, mewakili Bupati Jembrana.

Sebagai simbol dimulainya gerakan penghijauan tersebut, dilakukan pula penanaman 5 pohon Bodhi secara simbolis di kawasan Kebun Raya Jagatnatha Jembrana dipimpin oleh Asisten 1, I Ketut Armita, didampingi ketua umum Yayasan Empu Astapaka, Pandita Sudiarta Indrajaya dan Pandita Samianto, sedangkan penanaman 4 pohon Bodhi lainnya oleh Plt Kadis Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman, I Wayan Putra Mahardika,S.Sos.,M.Si. kepala UPTD Kebun Raya Jagatnatha, Ari Wisnawa, Perwakilan Polres Jembrana dan Banser NU. Turut menanam bersama antara lain ; Sunaryo, Wiewie Sukmawijaya, Bagio, Apriantika.

I Wayan Armita menyampaikan mewakili Bupati Jembrana, Saya sebagai Asisten 1 menerima 200 pohon Boddhi dari 500 pohon yang akan ditanam di Jembrana, Saya berharap penanaman pohon yang sangat bermanfaat seperti hari ini dapat dilanjutkan terus, Demi Jembrana Kita Pasti Bisa, Pekiknya diikuti semua yang hadir.

Pohon Bodhi ini adalah dana dari seorang senior buddhis di Jakarta. Dipilihnya Pohon Bodhi karena pohon bodhi berperan penting dalam konservasi tanah dan air, serta memiliki daya serap karbon yang tinggi untuk mengurangi polusi udara juga menjadi simbol kebijaksanaan, pencerahan, dan kedamaian.

Sejak 1995, PBB mengakui Hari Vesak (Waisak) sebagai hari suci internasional. Dalam perayaan ini, tokoh spiritual dan lembaga PBB kerap mengaitkannya dengan kesadaran penanaman pohon, untuk refleksi perdamaian dunia dan krisis lingkungan.

Suasana khidmat semakin terasa ketika puluhan anak anak sekolah minggu Buddha, perwakilan pemerintah bersama para bhikkhu dan tokoh agama mengikuti prosesi pelepasan 50 ekor burung perkutut. Pelepasan burung tersebut menjadi lambang kebebasan, kedamaian, serta harapan agar nilai-nilai kebajikan terus berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebelumnya, kegiatan diawali dengan prosesi Pindapata, tradisi pertapa dalam ajaran Buddha di mana para bhikkhu berjalan tanpa alas kaki di kota negara menerima persembahan dana makanan dari umat maupun masyarakat sebagai bentuk hubungan harmonis antara Sangha dan masyarakat. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan aksi donor darah yang dikoordinir Pungky, melibatkan PMI, umat dan masyarakat umum sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.

Seluruh rangkaian kegiatan mendapat dukungan dan restu spiritual dari para bhikkhu, yakni Sri Subhapannyo Mahathera, Bhikkhu Pabhajayo, dan Bhikkhu Kusala Sarano, serta para Pandita Magabudhi yang hadir dalam peringatan bersejarah tersebut.

 

Setengah abad pengabdian Vihara Empu Astapaka pun menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebajikan dapat tumbuh dan berakar kuat, layaknya pohon-pohon yang ditanam hari itu, memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. (*)

Editor :