SURABAYA – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya terlihat di lapangan besar maupun pusat pemerintahan. Di tengah permukiman warga, nasionalisme justru tumbuh melalui kegiatan sederhana yang sarat makna.
Warga di kawasan kampung Kota Surabaya menggelar upacara bendera secara sederhana untuk memperingati HUT ke-81 RI. Dengan mengenakan pakaian beragam, mulai dari seragam sekolah hingga pakaian sehari-hari, anak-anak, pemuda, orang tua, dan para sesepuh kampung berdiri bersama di bawah Sang Saka Merah Putih.
Baca juga: Cak YeBe Dorong Eksekusi Perda Hunian Layak Tanpa Pungli di Hari Kemanusiaan Sedunia
Tidak ada panggung megah maupun fasilitas mewah. Hanya lapangan kampung, barisan warga, dan semangat kebersamaan yang membuat suasana upacara berlangsung khidmat.
Anggota Komisi B Sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Surabaya,Budi Leksono atau yang akrab disapa Buleks, menilai tradisi upacara kemerdekaan di kampung menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme masih hidup dan tumbuh kuat di tengah masyarakat.
“Semangat kemerdekaan itu bukan hanya milik mereka yang mengikuti upacara di lapangan besar. Warga kampung juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan,” tutur Buleks Rabu (19/08).
Menurut Buleks, antusiasme warga di berbagai kawasan permukiman, termasuk masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran rel kereta api dan pinggiran kali, menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Kota Pahlawan.
“Ini menjadi bukti bahwa meskipun dilaksanakan di kampung, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Mereka rela berpanas-panasan, datang bersama keluarga, dan berdiri dengan tertib demi menghormati Merah Putih,” kata Buleks seusai menjadi inspektur upacara di Lapangan Zeni TNI AD Jepara, Kecamatan Bubutan, Surabaya.
Keistimewaan upacara di tingkat kampung terlihat dari keterlibatan berbagai kelompok masyarakat. Anak-anak sekolah turut ambil bagian dengan mengenakan seragam mereka.
Sebagian anak bahkan dilatih menghafalkan kata-kata mutiara para pahlawan. Cara sederhana tersebut dinilai menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah perjuangan, nilai-nilai Pancasila, serta kecintaan terhadap Tanah Air sejak usia dini.
Sementara itu, para pemuda mengambil peran dalam mempersiapkan dan mengatur jalannya kegiatan. Tokoh masyarakat menjadi penggerak, sedangkan warga senior turut memberikan warna dalam suasana kebersamaan.
Buleks menilai keterlibatan generasi muda sangat penting agar semangat nasionalisme tidak berhenti pada seremoni tahunan.
“Anak-anak harus dikenalkan dengan sejarah dan perjuangan para pahlawan sejak dini. Tidak harus melalui kegiatan yang formal dan kaku. Dengan upacara di kampung, mereka bisa belajar menghormati Merah Putih sekaligus merasakan langsung arti kebersamaan,” tuturnya.
Baca juga: Abdul Malik Gerak Cepat Bantu Anak Yatim Putus Sekolah, Dorong Fasilitasi Pesantren Gratis
Kehadiran personel TNI dari satuan setempat, termasuk anggota Zeni, turut menambah kekhidmatan upacara. Mereka terlibat dalam prosesi dan membantu memastikan pelaksanaan upacara berlangsung tertib.
Semangat kemerdekaan di kampung juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Setelah upacara, warga dapat menikmati beragam kuliner rakyat yang dijajakan masyarakat, seperti soto, sate, hingga minuman segar.
Lapak-lapak sederhana tersebut tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM kampung untuk mendapatkan penghasilan.
“Ini yang saya kira menarik. Kemerdekaan harus bisa dirasakan bersama. Tidak hanya dalam bentuk upacara, tetapi juga melalui kebersamaan, silaturahmi, dan bagaimana kegiatan seperti ini ikut menghidupkan ekonomi warga,” jelas Buleks.
Bagi Buleks, upacara kemerdekaan di kampung memiliki makna lebih besar daripada sekadar seremoni tahunan. Berkumpulnya warga di bawah Merah Putih menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan kembali semangat gotong royong.
Baca juga: Budi Leksono Sambut Dirut Baru PDAM Surabaya, Dorong Pelayanan Air Minum Makin Prima
“Ketika warga berkumpul, berdiri bersama di bawah Merah Putih, kemudian saling menyapa dan bergotong royong, di situlah sebenarnya nasionalisme itu tumbuh. Nasionalisme tidak selalu harus dengan kata-kata besar, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana di lingkungan kita sendiri,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi warga yang sehari-hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Mereka dapat kembali bertemu, berbincang, dan menikmati suasana kebersamaan.
Buleks berharap tradisi upacara kemerdekaan di kampung terus dipertahankan dan semakin banyak lingkungan di Surabaya yang menggelar kegiatan serupa.
“Saya berharap semangat seperti ini terus dijaga. Jangan hanya dilakukan ketika peringatan kemerdekaan, tetapi semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Dari lapangan-lapangan kecil di pelosok kampung itulah semangat nasionalisme terus dirawat. Bukan melalui kemewahan, melainkan melalui kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap Merah Putih.
Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari gedung-gedung besar, tetapi juga dari kampung-kampung tempat masyarakat masih mau berdiri bersama, menghormati jasa para pahlawan, dan menjaga persatuan. (rda)
Editor : rudi