SURABAYA - Bagi Tretan Muslim, film Foufo bukan sekadar proyek layar lebar terbaru. Di balik kisah fiksi yang memadukan drama keluarga dan sentuhan fiksi ilmiah, komika sekaligus aktor itu melihat kesempatan untuk memperkenalkan wajah Madura yang lebih hangat, religius, dan penuh semangat kebersamaan kepada masyarakat luas.
Lewat karakter Muslim yang ia perankan, Tretan ingin mengajak penonton melihat sisi lain masyarakat Madura yang selama ini jarang mendapat ruang dalam perfilman Indonesia.
Baca juga: Fakta Adaptasi Film Rumah Sakit Angker Korea yang Penuh Tantangan Teknis
Film garapan Bayu Skak ini mengisahkan Muslim, seorang pengepul barang rongsokan keturunan Madura yang tinggal di Kampung Rombeng. Hidup dalam keterbatasan ekonomi, ia memiliki satu cita-cita sederhana tetapi begitu besar maknanya, yakni memberangkatkan sang ibu menunaikan ibadah haji.
Perjalanan itu tidak berjalan mudah. Berbagai persoalan datang silih berganti hingga membuat hidup Muslim semakin terjepit.
Keadaan berubah ketika ia menemukan bangkai pesawat UFO yang jatuh di pinggiran kota. Di dalamnya terdapat seekor alien yang kemudian diberinya nama Foufo.
Alih-alih menjual material UFO sebagai besi rongsokan, Muslim memilih menyelamatkan makhluk tersebut. Teknologi yang dimiliki Foufo kemudian membantu menyelesaikan berbagai persoalan keluarga Muslim.
Namun ujian terbesar datang ketika biaya pelunasan haji sang ibu justru dicuri oleh anggota keluarga yang selama ini ikut tinggal dan bergantung kepadanya. Pada saat bersamaan, Foufo kehabisan energi dan membutuhkan bantuan untuk kembali ke kapal induknya.
Muslim pun dihadapkan pada pilihan yang sangat emosional: menyelamatkan impian ibunya berangkat haji atau membantu sahabat barunya pulang ke rumah.
Ingin Mengubah Cara Publik Memandang Orang Madura
Bagi Tretan Muslim, cerita dalam Foufo membawa misi yang jauh lebih besar dibanding sekadar hiburan.
Ia menilai selama ini masyarakat lebih sering menemukan pemberitaan tentang Madura yang berkaitan dengan konflik atau stereotip negatif.
Karena itu, ia berharap film ini dapat menghadirkan perspektif berbeda.
"Sebenarnya film ini tanggung jawabnya adalah seluruh orang Madura tergantung film ini. Karena kalau teman-teman lihat berita-berita soal Madura, itu isinya ya bawa Jembatan Suramadu, berantem biasanya. Justru dari film ini, kita selain membuktikan bahwa talent-talent asli Madura luar biasa, dan juga kita mau mengangkat bahwa orang Madura itu kekeluargaannya sangat kuat," ujar Tretan Muslim dalam konferensi pers di XXI Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, hampir seluruh pemain yang berasal dari Madura membuat karakter-karakter dalam film terasa lebih alami dan autentik.
Tak hanya mengangkat kekompakan keluarga, Foufo juga memperlihatkan kuatnya nilai religius yang hidup dalam budaya Madura.
Hal tersebut tercermin dari perjuangan Muslim yang rela bekerja keras demi mewujudkan impian sang ibu beribadah ke Tanah Suci.
Tretan mengatakan semangat tersebut berangkat dari falsafah yang telah lama hidup di masyarakat Madura.
Baca juga: Masha and the Bear Siapkan Sekuel Film Panjang Sebelum Film Pertama Rilis
"Dan religiusnya itu luar biasa. Apalagi untuk urusan Ibu. Kita punya semboyan Bhuppa' Bhâbbhu' Ghuru Rato. Bapak, ibu, guru, dan ratu. Itulah yang pengen kita tunjukkan bahwa orang Madura itu kekeluargaannya, apalagi buat Ibu itu pasti apa pun dilakukan," ungkapnya.
Nilai tersebut menjadi benang merah sepanjang perjalanan karakter Muslim dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Dari Stand Up Comedy ke Layar Lebar, Tretan Merasa Punya Ruang Baru
Tretan mengaku memiliki kedekatan emosional dengan proyek ini. Selama berkarier sebagai komika, ia memang beberapa kali mengangkat budaya Madura sebagai materi lawakan.
Namun menurutnya, panggung stand up comedy memiliki keterbatasan untuk benar-benar menggambarkan nilai-nilai positif yang dimiliki masyarakat Madura.
Melalui film, ia merasa memiliki ruang yang lebih luas untuk menyampaikan cerita dengan pendekatan yang lebih menyentuh.
"Pastinya sangat senang dan bangga karena mungkin dulu kalau saya stand up beberapa bahan komedinya tentang Madura. Karena kalau dari stand up nggak mungkin kalau kita membahas tema yang memuji-muji suku sendiri. Tapi lewat film ini, insyaallah banyak hal tentang Madura yang mungkin teman-teman nggak lihat. Seperti tentang nilai kekeluargaan, nilai religius, dan nilai perjuangan," kata Tretan.
Pernyataan Tretan dalam konferensi pers turut menarik perhatian pecinta film Indonesia, khususnya mereka yang menantikan karya terbaru Bayu Skak.
Baca juga: The Bell: Panggilan Untuk Mati Resmi Tayang, Cerita Mistis Lonceng Keramat Belitung
Banyak penggemar menilai Foufo menawarkan konsep yang berbeda karena memadukan drama keluarga, komedi, budaya lokal, hingga elemen fiksi ilmiah dalam satu cerita.
Kehadiran aktor-aktor berlatar belakang Madura juga dinilai memperkuat representasi budaya yang lebih autentik di layar lebar.
Film yang Membawa Cerita Lokal ke Panggung Nasional
Di tengah semakin berkembangnya film-film yang mengangkat budaya daerah, Foufo hadir sebagai salah satu karya yang mencoba memperkenalkan identitas lokal melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Film ini disutradarai oleh Bayu Skak, diproduseri Bayu Skak bersama Ricky R. Setiawan, serta produser eksekutif David Suwarto.
Selain Tretan Muslim sebagai pemeran utama, film ini juga dibintangi Habib Ja'far, Ade "Bibier" Kurniyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizki Bibir, hingga DJ Rara.
Foufo dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.
Lebih dari sekadar kisah tentang alien dan teknologi, film ini menawarkan cerita mengenai bakti seorang anak kepada ibu, kekuatan keluarga, dan harapan untuk menghadirkan wajah Madura yang lebih utuh. Di situlah Tretan Muslim berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga pulang dengan pemahaman baru tentang nilai-nilai yang selama ini hidup di tanah kelahirannya.
Editor : Fudai