Udara Surabaya Terasa Lebih Dingin, BMKG Sebut Fenomena Bediding hingga Agustus

Reporter : Fudai
Pagi dingin, 3 Juli 2026 di Surabaya. FOTO/fuday

SURABAYA – Fenomena bediding menyebabkan suhu udara di Surabaya dan wilayah sekitarnya terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara di sejumlah wilayah dapat turun hingga mencapai 18 derajat Celsius, kondisi yang disebut masih normal terjadi saat musim kemarau.

Prakirawan BMKG Juanda, Trya Chandra, menjelaskan fenomena bediding dipicu oleh bertiupnya angin muson timur dari Australia yang membawa massa udara lebih kering dan dingin. Kondisi tersebut diperkuat minimnya tutupan awan sehingga pelepasan radiasi panas dari permukaan bumi ke atmosfer berlangsung lebih maksimal pada malam hari.

Baca juga: Pengelolaan Limbah B3 Surabaya Capai 95 Persen, Pemkot Perkuat Pengawasan

"Juga akibat pelepasan radiasi matahari ke atmosfer secara maksimal karena tidak adanya tutupan awan saat musim kemarau," kata Trya saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).

Trya menjelaskan, penurunan suhu saat bediding dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi cuaca, tutupan awan, kecepatan angin, serta karakteristik masing-masing wilayah.

Di daerah dataran rendah, suhu udara pada malam hingga menjelang pagi umumnya berkisar antara 18 hingga 22 derajat Celsius. Sementara itu, kawasan dataran tinggi dapat mengalami suhu yang lebih rendah, yakni sekitar 15 hingga 18 derajat Celsius, bahkan berpotensi turun di bawah kisaran tersebut.

Baca juga: Perayaan HUT Persebaya ke 99 Diwarnai Penganiayaan, 3 Warga Surabaya Jadi Korban

BMKG memperkirakan fenomena ini masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Meski demikian, kondisi udara yang lebih dingin pada malam dan pagi hari merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

Untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, BMKG mengimbau masyarakat mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam maupun pagi hari. Warga juga disarankan menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

"Istirahat cukup, olahraga teratur, serta waspadai ISPA, flu, dan batuk. Petani di dataran tinggi juga perlu mewaspadai embun beku yang dapat merusak tanaman," ujar Trya.

Baca juga: Purbaya Surabaya Pecah Target, Berhasil Naik Podium di Festival Reog Ponorogo

Selain itu, BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru sebelum beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut dinilai penting agar warga dapat mengantisipasi perubahan cuaca selama fenomena bediding masih berlangsung hingga puncak musim kemarau. (red)

 

Editor : Fudai

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru