SURABAYA – Ada sensasi yang berbeda saat melangkah masuk ke kawasan Pos Bloc Surabaya. Di balik dinding bata tua dan jendela-jendela besar yang telah berdiri selama puluhan bahkan ratusan tahun, aroma masakan Nusantara berpadu dengan sentuhan kuliner Belanda menghadirkan pengalaman yang tak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga mengajak pengunjung menelusuri jejak sejarah Kota Pahlawan.
Pengalaman itu kini dapat dirasakan di 10 Regentstraat, restoran yang menempati bangunan bekas Kantor Pos Besar Surabaya. Restoran ini menjadi wajah baru kawasan heritage yang tidak hanya menghidupkan kembali bangunan bersejarah, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk menikmati sejarah dengan cara yang lebih dekat dan hangat.
Baca juga: Pemkot Surabaya Catat Lonjakan Wisata 2025, Pasar Domestik Jadi Andalan
Sejak resmi dibuka, 10 Regentstraat menjadi salah satu daya tarik utama di Pos Bloc Surabaya. Bangunan cagar budaya tipe A yang menjadi lokasi restoran tetap mempertahankan karakter arsitektur aslinya, mulai dari langit-langit tinggi, bukaan jendela berukuran besar, hingga dinding bata yang menyimpan kisah perjalanan panjang Kota Surabaya.
Chief Business Development & Hospitality Officer PT Pos Properti Indonesia, Endro Tjahjono, mengatakan restoran tersebut dirancang sebagai anchor tenant yang diharapkan mampu menghidupkan seluruh ekosistem Pos Bloc Surabaya.
“konsep yang diusung tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga menghadirkan perjalanan sejarah melalui setiap sudut ruangan dan setiap hidangan yang disajikan,” tutur Endro.
Di atas meja, pengunjung akan menemukan beragam menu yang mencerminkan pertemuan budaya yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Surabaya.
Mulai dari bitterballen, camilan khas peninggalan era kolonial Belanda, klappertaart dengan sentuhan karamel bergaya Eropa, karedok khas Sunda, hingga Limun Cap Badak yang telah melegenda. Seluruh menu dipadukan dengan aneka hidangan Nusantara sehingga menghadirkan pengalaman kuliner yang kaya rasa sekaligus sarat cerita.
Setiap sajian seolah mengingatkan bahwa perjalanan sebuah kota tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup melalui tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi.
Direktur 10 Regentstraat, Steffiani Setyadji, mengungkapkan restoran tersebut mulai ramai dikunjungi wisatawan sejak dibuka.
Baca juga: Abdul Malik Dorong Wisata Surabaya Jadi Alternatif Aman di Tengah Cuaca Ekstrem
“Banyak rombongan tur Kota Lama Surabaya menjadikan tempat ini sebagai salah satu titik persinggahan untuk menikmati makanan sekaligus mengenal sejarah bangunan yang telah direvitalisasi,” kata Steffiani.
Di berbagai sudut restoran dipasang foto-foto lawas, ornamen klasik, hingga informasi mengenai sejarah kawasan dan tokoh-tokoh yang berperan dalam pembangunan Kantor Pos Besar Surabaya. Kehadiran elemen tersebut membuat pengalaman bersantap terasa lebih bermakna.
Pengembangan Pos Bloc Surabaya tidak berhenti pada sektor kuliner. Kawasan seluas sekitar 1,2 hektare ini juga dipersiapkan menjadi pusat ekonomi kreatif yang memadukan seni, komunitas, pertunjukan, serta ruang bagi pelaku UMKM.
Ke depan, kawasan ini akan dilengkapi hanggar pertunjukan berkapasitas sekitar 1.500 orang, area kreatif, hingga program edukasi sejarah yang dikembangkan secara bertahap.
Baca juga: Libur Akhir Tahun Makin Seru, KBS Luncurkan Gokart Listrik Dan Kereta Cerita
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menilai kehadiran restoran di dalam bangunan heritage menjadi cara menarik untuk mengenalkan kembali warisan sejarah kepada generasi muda.
“Suasana akan semakin hidup apabila dipadukan dengan musik klasik, dokumentasi sejarah, serta narasi perjalanan Kota Surabaya yang dapat dinikmati pengunjung,” ungkap Eri Cahyadi.
Menurutnya, bangunan bersejarah tidak harus menjadi ruang yang hanya dikenang. Ketika sejarah dipadukan dengan kuliner, seni, dan aktivitas kreatif, lahirlah destinasi yang bukan sekadar tempat makan, tetapi ruang untuk menikmati cerita sebuah kota. (diy)
Editor : Fudai