SURABAYA - China resmi meluncurkan program percepatan elektrifikasi truk berat dengan target ambisius yang berpotensi mempercepat pengurangan penggunaan bahan bakar diesel di sektor logistik dan transportasi barang.
Melalui kebijakan yang diumumkan Kementerian Transportasi China, kendaraan listrik ditargetkan menyumbang 40 persen dari penjualan truk berat baru pada 2030. Sementara itu, sekitar 20 persen armada truk berat nasional atau setara 1,6 juta unit diharapkan telah beralih menggunakan tenaga listrik.
Untuk sejumlah rute logistik jarak pendek di sekitar Beijing, pemerintah bahkan menetapkan target penggunaan truk listrik hingga 80 persen.
Langkah tersebut menjadi target paling rinci yang pernah ditetapkan China untuk sektor truk berat listrik. Angkanya jauh melampaui proyeksi sejumlah lembaga riset sebelumnya. Rystad Energy, misalnya, pada September tahun lalu memperkirakan truk listrik hanya akan menguasai sekitar 9 persen dari total armada truk berat China pada 2030.
Perkembangan kendaraan listrik di segmen truk berat memang berlangsung sangat cepat. Data CVWorld menunjukkan bahwa pada 2025, model listrik telah menyumbang hampir sepertiga dari total penjualan truk berat baru di China.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kombinasi subsidi pemerintah, penurunan biaya teknologi baterai, serta pembangunan infrastruktur pengisian daya yang semakin luas dalam dua tahun terakhir.
Sebagai bagian dari program tersebut, China juga menargetkan pembangunan 3.000 stasiun pengisian daya dan penukaran baterai khusus kendaraan berat pada 2030. Infrastruktur ini akan menjadi fondasi proyek pembangunan "jalan raya nol karbon" yang sedang dikembangkan pemerintah.
Sejumlah pelaku industri menilai adopsi truk listrik di China berpotensi melampaui target resmi pemerintah. Fenomena serupa sebelumnya terjadi pada sektor energi terbarukan, ketika kapasitas pembangkit hijau tumbuh lebih cepat dibanding target yang telah ditetapkan.
Produsen baterai terbesar dunia, CATL, bahkan memperkirakan hingga 50 persen penjualan truk berat baru di China dapat berupa kendaraan listrik pada 2028.
Untuk mempercepat transisi, pemerintah China akan memprioritaskan truk listrik dalam program tukar tambah kendaraan. Melalui skema tersebut, pemilik kendaraan lama akan memperoleh subsidi saat menggantinya dengan model baru yang lebih ramah lingkungan.
Kebijakan itu diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar truk listrik, sebagaimana program serupa sebelumnya berhasil meningkatkan penjualan truk berbahan bakar gas alam cair (LNG) ketika harga bahan bakar tersebut mengalami penurunan.
Di sisi lain, percepatan elektrifikasi juga membuka peluang besar bagi produsen truk domestik China. Banyak perusahaan kini mulai memperluas pasar ekspor ke berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian produsen kendaraan di Eropa yang khawatir terhadap masuknya produk China yang menawarkan harga kompetitif dengan kualitas yang terus meningkat.
Dalam kunjungan industri yang difasilitasi pemerintah pada Sabtu, Beiben Trucks Group memamerkan dump truck listrik terbarunya di Mongolia Dalam, China utara. Kendaraan itu menggunakan baterai produksi EVE Energy dengan jarak tempuh antara 200 hingga 250 kilometer dalam sekali pengisian.
Menariknya, baterai tersebut dapat diisi ulang hanya dalam waktu sekitar 22 menit, menjadikannya salah satu solusi yang dinilai cocok untuk kebutuhan operasional sektor tambang dan logistik jarak pendek.
Spesialis senior pengembangan strategi Beiben Trucks Group, Bai Xiaolong, mengatakan pasar domestik masih menjadi fokus utama perusahaan karena banyak negara belum memiliki infrastruktur pengisian daya yang memadai.
Meski demikian, sekitar 20 persen produksi truk Beiben saat ini telah diekspor ke berbagai negara.
Menurut Bai, Asia Tenggara mulai menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan untuk kendaraan niaga listrik. Permintaan terbesar datang dari sektor pertambangan, termasuk dari Indonesia yang dinilai memiliki kebutuhan operasional kendaraan berat dalam jumlah besar. (red)
Editor : fuday