JEMBRANA - Semangat menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat persaudaraan antarumat beragama diwujudkan melalui kegiatan penanaman 50 pohon cemara udang di kawasan pesisir pantai yang berdekatan dengan area pemakaman umat Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha di Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana sabtu 6 Juni 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 50 Tahun Vihara Empu Astapaka, sekaligus memperingati Tahun Kencana Sangha Theravada Indonesia dan 50 Tahun Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) tersebut mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, aparat pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga umat lintas keyakinan.
Baca juga: Revitalisasi Dokar di Jembrana, Langkah Strategis Pemkab Dongkrak Pariwisata
Sebanyak 50 pohon cemara udang ditanam sebagai simbol perjalanan setengah abad pengabdian Vihara Empu Astapaka kepada masyarakat. Selain memiliki makna spiritual, pohon-pohon tersebut juga diharapkan memberikan manfaat ekologis jangka panjang bagi kawasan pesisir Gilimanuk.
Cemara udang dikenal memiliki fungsi penting dalam menjaga ekosistem pantai karena mampu mengurangi abrasi, menahan terpaan angin laut, menyerap karbon, serta menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan teduh.
Kegiatan ini dilaksanakan atas arahan dan dukungan Pemerintah Kelurahan Gilimanuk bersama Desa Adat setempat, serta mendapat respons positif dari Yayasan Vihara Empu Astapaka yang menjadikan penghijauan sebagai salah satu bentuk kepedulian lingkungan dan sumbangsih bagi negeri.
Lurah Gilimanuk menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut yang dinilai tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus mempererat hubungan antarumat beragama. Gilimanuk dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi toleransi, dan kegiatan penanaman pohon ini menjadi bukti bahwa keberagaman dapat diwujudkan dalam kerja nyata untuk kepentingan bersama," ujarnya.
Senada dengan itu, Bendesa Adat setempat menyampaikan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari nilai luhur yang diwariskan leluhur dan menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya.
Baca juga: Bupati Tamba Ajak Pelajar SMA Cegah Stunting
"Alam adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Melalui kegiatan ini terlihat bahwa semangat gotong royong dan kebersamaan masih sangat kuat. Ketika masyarakat dari berbagai keyakinan dapat bersatu menanam pohon dan menjaga lingkungan, itu menjadi contoh yang sangat baik bagi generasi muda," ungkapnya.
Keunikan kegiatan ini terlihat dari lokasi penanaman yang berada di kawasan pemakaman lintas agama, tempat bersemayam umat Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha. Kondisi tersebut menjadi simbol nyata kerukunan yang telah lama terbangun di Gilimanuk dan Jembrana secara umum.
Semangat kebersamaan juga tampak dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk personel Batalyon C Pelopor Brimob, anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU), tokoh agama, pemuda, dan masyarakat setempat yang bahu-membahu melakukan penanaman pohon.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan mampu menjadi jembatan yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan mulia, yakni menjaga alam sebagai rumah bersama.
Baca juga: Bupati Tamba Cek Lokasi dan Beri Bantuan Korban Kebakaran Desa Cupel, Negara
Kegiatan penghijauan ini juga mendapat restu dan dukungan spiritual dari tiga Bhikkhu, yakni Sri Subhapannyo Mahathera, Bhikkhu Pabhajayo, dan Bhikkhu Kusala Sarano, serta para Pandita Magabudhi yang hadir dalam rangkaian peringatan 50 Tahun bersama ini.
Para tokoh agama yang hadir menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Dengan bertambahnya 50 pohon cemara udang di kawasan pesisir Gilimanuk, diharapkan lingkungan pantai semakin lestari, teduh, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. Lebih dari itu, pohon-pohon yang ditanam tersebut diharapkan menjadi simbol persaudaraan, toleransi, dan kerukunan yang terus tumbuh kokoh di tengah keberagaman masyarakat Jembrana.
Sementara itu pada 6 Juni 2026 dilakukan serah terima 200 pohon bodhi kepada Bupati Jembrana yang diwakili Asisten Ketut Armita dan dilakukan penanaman 5 pohon Bodhi secara simbolis dan lepas 50 burung perkutut di Kebun Raya Jagatnatha setelah Pindapata dan dilanjutkan donor darah(*)
Editor : Lani